pendidikan

Bebas, tapi Tegas.

Kali ini saya akan cerita tentang keponakan saya lagi.

Minggu lalu adalah minggu pertama tahun ajaran baru untuk sebagian besar sekolah. Para orangtua sibuk mengantarkan anak-anaknya menjalani hari pertama . Tak sedikit yang mengajak sang anak ke sekolah dari dini hari buta agar dapat tempat duduk idaman. Semua bersemangat mengantarkan sang buah hati masuk sekolah. Tak terkecuali bagi keponakan saya yang minggu lalu resmi menjalani hari pertamanya sebagai siswa Taman Kanak-Kanak.

Ia akan bersekolah di salah satu TK di dekat rumah. Selama ini, ia biasanya banyak menghabiskan waktu di rumah, bermain bersama keluarga. Karena kedua orangtua nya sama-sama bekerja, selama di rumah biasanya ia ditemani oleh tante atau neneknya. Namun kali ini agak berbeda, mengingat tantenya sudah bekerja dan neneknya yang baru pulang sore, akhirnnya disepakati setelah pulang sekolah ia akan dititpkan sementara ke baby care di TK tersebut sampai sore, sampai ada orang rumah yang pulang. (more…)

KIPAS-in Pendidikan Kita.

“Lebih baik bergerak melakukan sesuatu daripada menimbang-nimbang namun akhirnya tak jadi maju.”

Kenapa Kita Melakukan Hal Ini

Sebuah ide yang sederhana jauh lebih bermakna jika segera dijalankan, daripada sebuah ide sempurna yang tidak pernah terlaksana. Berawal dari obrolan ringan beberapa orang relawan Kelas Inspirasi Surabaya yang geram melihat terungkapnya kasus kejahatan seksual pada anak di grup Facebook beberapa waktu lalu, kami sepakat untuk bergerak melakukan sesuatu. Suatu gerakan yang kami beri nama KIPAS, Kita Peduli Anak Surabaya.

KIPAS lahir karena adanya keresahan. Keresahan akan rendahnya kesadaran masyarakat, khususnya orangtua dan anak-anak mengenai pemahaman seksual secara benar yang salah satunya menyebabkan tingginya kasus kejahatan seksual pada anak dari tahun ke tahun. Masuknya teknologi dan dunia digital dalam kehidupan masyarakat sedikit banyak malah memperparah hal ini, sampai akhirnya terungkap lah adanya sebuah grup Facebook berisi kumpulan orang-orang dengan penyimpanan orientasi seksual pada anak (pedofil) yang secara aktif menyebarkan foto, video, dan media lain yang berisi dokumentasi kegiatan (maaf) hubungan intim mereka dengan anak-anak. Mereka membagikannya, mendapat like dan love dari teman-temannya, saling memuji, saling menyemangati, bahkan saling memberikan “saran” dan “masukan” cara “begituan” yang asyik. Miris. (more…)

Pilih-pilih.

Saat saya kecil, saya sempat agak pilih-pilih makanan. Bukan karena alasan kesehatan, tapi murni karena manja. Saya tidak akan makan kalau tidak disuapi chiki oleh Ibu saya. Satu sendok nasi, lalu satu bola-bola chiki. Begitu seterusnya. Kebiasaan ini berlanjut saat SD. Kalau kami sekeluarga makan di restoran padang maka yang saya makan hanyalah nasi + bumbu lengkuas ayam gorengnya. Hanya bumbu, tanpa ayam goreng. Kalau kami sedang makan nasi goreng maka saya tidak akan makan sayurnya. Saat itu saya hanya mau makan daging dan bumbu ayam, dan sama sekali tidak suka sayur dan sejenisnya. Jadi tidak heran kalau sedang makan di luar, terutama saat berkunjung ke rumah saudara atau acara keluarga, orangtua saya agak geleng-geleng kepala memilihkan makanan.

Gado-gado. Semua rasa jadi satu.

Mungkin karena melihat saya yang terlalu pilih-pilih makanan, ayah saya sempat menasehati “Sayur itu adalah makanan alami. Paling mudah didapat. Kalau suatu saat semua makanan habis, kamu mau tidak makan ?” Dulu saya hanya menganggap angin lalu omongan ayah. Namun setelah semakin dewasa, rasanya saya mulai memahami bahwa ada filosofi luar biasa yang bisa kita dapatkan dari kebiasaan tidak memilih-milih makanan, terutama untuk anak-anak kita.

(more…)