impian

3 November 2014

3 November 2014

Tepat 5 bulan yang lalu, Engkau pergi meninggalkan kami semua..

5 bulan yang berat..

Bukan hanya berat dijalani, namun juga berat berdamai dengannya..

Jujur Pa, hingga saat ini aku masih suka bersedih atas kepergianmu.. Bukan karena aku tak rela kau pergi, tapi karena penyesalanku yang begitu besar tak mampu menggunakan waktu bersamamu untuk membuatmu bahagia..

Surat ini kutulis bukan dalam rangka menangisi kepergianmu, namun ijinkan surat ini mewakili perasaanku dan segenap kerinduanku padamu..

Pa, kalau kau ada di depanku saat ini.. Ijinkan aku menangis di pangkuanmu.. Memohon maaf.. atas semua kesalahanku padamu selama ini..

Maafkan aku Pa.. hingga akhir hayatmu, aku tidak bisa menjadi anak yang berbakti padamu.. Yang bermuka manis menyambutmu pulang… Yang menanyakan apakah kau sudah makan atau belum saat malam.. Yang menjawab pertanyaan-pertanyaanmu dengan ucapan lemah lembut.. Maafkan aku yang belum sempat membuatmu tersenyum bangga melihat kesuksesan anakmu.. Maafkan aku Pa.. (more…)

Advertisements

Catatan Seorang Konsultan : Bukan Sekedar Kerja

Dan disinilah saya terdampar,

Di sebuah kota kecil di pesisir pantai Pulau Jawa bernama Paiton.

Di kota yang lebih terkenal karena keindahan pembangkit listrik nya inilah saya akan bekerja selama dua hari ke depan.

Sudah menjadi resiko seorang konsultan, untuk selalu mobile, berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menyelesaikan permasalahan klien dimanapun mereka berada.

Alhamdulillah, sudah hampir 3 bulan saya menjalani pekerjaan ini, saya semakin merasa bersyukur .

Hampir semua aspek pekerjaan yang saya impikan bisa saya dapatkan disini.

Bekerja sebagai seorang konsultan manajemen, saya merasa seperti kuliah S2 Teknik Industri tapi dibayar. Hehe.

Punya penghasilan yang cukup, berkesempatan untuk belajar ilmu yang ga sembarang orang bisa dapet, berkesempatan belajar langsung tentang proses bisnis berbagai jenis perusahaan, berkesempatan untuk job traveling hampir setiap hari, bisa menyalurkan passion, dan yang terpenting saya tetap bisa bekerja di Surabaya, tetap di rumah sendiri. Saya ga bilang kalau bekerja di perantauan itu ga baik, karena tentunya banyak pelajaran hidup yang lebih bisa didapat saat merantau. Namun saat ini prioritas saya adalah berada tak jauh dari keluarga. Saya punya tanggung jawab untuk memimpin dan menjaga mereka, yang tentunya akan lebih mudah saya lakukan jika tak jauh dari mereka. Selain itu saya juga masih punya cukup banyak waktu untuk melakukan berbagai kegiatan dan aktifitas sosial di luar pekerjaan. (more…)

Seandainya Kita Selalu Satu

Sejak pertama kali mendengar lagu “Seandainya Selalu Satu” yang biasanya dibawakan teman-teman Paduan Suara Mahasiswa ITS, lagu ini selalu menjadi theme song tak resmi yang selalu berputar di kepala setiap kali menghadiri perayaan wisuda.

Lagu ini benar-benar pas menggambarkan bagaimana perasaan setiap wisudawan saat diwisuda. Lirik lagunya, melodinya, vokal penyanyinya, benar-benar menggambarkan perasaan yang berkecamuk di hati setiap wisudawan. Wisuda memang pada akhirnya menjadi sebuah dilema, senang telah menuntaskan perjuangan selama kuliah, bahagia bisa membanggakan orang-orang tercinta, namun sedih karena harus berpisah dengan rekan-rekan seperjuangan yang sudah dianggap layaknya keluarga kedua, meninggalkan momen-momen manis selama di kampus untuk memasuki fase kehidupan baru.

Kisah kita ini
bukan kehendakku
juga bukan kehendakmu
tapi kehendak Nya

Kutahu tak mungkin terjadi
bagai asa yang tak bertepi

Ya, jalinan kisah ini, kisah yang sudah terlanjur tergores manis ini, memang tidak pernah jadi keinginanku, begitu pula keinginanmu, tapi sejak awal ini memang menjadi kehendakNya.. Ia yang mempertemukan, ia pula yang pada akhirnya memisahkan.

Jujur, ingin rasanya untuk terus seperti ini, terus bersama-sama seperti ini. Berbagi tawa, canda, dan duka bersama. Saling menguatkan, saling merangkul sampai nanti. Tak perlu ada perpisahan. Hanya ada kebahagiaan. (more…)