asmara

Bersamamu…

Bersamamu, bahagia terasa sederhana..

Sesederhana setiap momen yang kita jalani berdua..

Sesederhana aku datang ke rumahmu membawakan nasi krawu kesukaanmu, lalu kau menyambutku dengan gembira, kau memberikannya untuk papa mama di rumah, dan kita makan berdua dengan hati riang di ruang tamu..

Sesederhana saat kau datang ke rumahku dengan membawakan milkshake coklat kesukaanku yang kau buat sendiri yang tak ku sangka-sangka sebelumnya..

Sesederhana saat kita bermain bertiga dengan Icam di ruang tamu, bermain menyusun kata di balok permainan, lalu Icam bisa menebak kata yang disusun dengan tepat, dan kita berdua tepuk tangan dengan keras memberikan penghargaan pada keponakan kecil kita, disambut tawa gembira dirinya, menunjukkan gigi-giginya yang ompong..

Sesederhana perjalanan Surabaya Sidoarjo yang secara jarak sebenarnya tidak terlalu jauh, namun ditempuh dengan penuh perjuangan karena jam-jam macet orang pulang kerja, lalu kita akhirnya menemukan rumah yang kita cari, lalu disambut keramahan si pemilik rumah..

Sesederhana perasaan bahagia bisa makan sego sambel mak yeye yang kita makan tanpa rencana sebelumnya, meskipun harus berjuang mengantri hampir 1 jam lamanya karena piring atau ikan pe atau telor atau tempe yang habis, berteriak-teriak dengan pembeli yang lain, hingga membuat mbak penjualnya kesal…

Sesederhana itu..

Sayang, aku mencintaimu kesederhanaanmu..

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

Namun dengan makna yang luar biasa..

Semoga kita bisa terus bersama dalam bahtera sederhana…

Amiin….

Advertisements

Ini Tentang Memanusiakan Pasangan

Manusia seringkali lupa betapa berharganya sesuatu sebelum mereka kehilangannya. Begitu juga dalam sebuah hubungan. Ekspektasi selangit yang kita miliki pada pasangan masing-masing acapkali mengaburkan sehingga membuat kita lupa pengorbanan dan kerja keras yang dilakukan pasangan dalam membahagiakan kita.

Padahal, boleh jadi perbuatan pasangan yang kita anggap tidak penting, biasa saja, atau bahkan kita rasa selalu kurang, kurang, dan kurang, ia lakukan dengan kebesaran hati yang luar biasa. Dilakukan dengan usaha segenap daya untuk meredam emosi dan lelah. Dilakukan semata-mata untuk membahagiakan teman sehidup seperjalanan.

Lalu apa yang kira-kira yang akan dirasakan pasangan kita jika pengorbanan sedemikian besar, tidak pernah dihargai, selalu dianggap kurang, tanpa pernah dibalas dengan apresiasi yang membesarkan hati? Yang pada akhirnya dapat menimbulkan persepsi bahwa hadirnya tidak pernah dirasa sebagai sesuatu yang berarti bagi pasangan. Dan ujungnya adalah penyesalan mendalam yang hinggap saat dirinya sudah pergi meninggalkan kita.

Mari kita apresiasi kehadiran pasangan kita. Kita hargai semua yang telah mereka lakukan untuk kita, terlepas dari kekurangan yang ada. Tunjukkan, biarkan mereka tahu, bahwa kehadiran mereka sangat berharga bagi kita, minimal dengan ucapan terimakasih yang tulus dan tatapan mata yang serius.

Jadi, sudahkah kamu bersyukur akan hadirnya pasanganmu hari ini?

Bukankah Cinta…

Bukankah cinta itu seharusnya menenangkan ?

Menenangkan jiwa karena tahu ada seseorang yang mau bersama-sama meraih mimpi, saling menyayangi, saling mengasihi, dan mau menerima segala kelebihan dan kekurangan masing-masing..

Tapi jika cinta hanya dipakai sebagai kedok untuk selalu menuntut untuk dipahami namun tak mau untuk sedikit ikhlas, bertindak sedikit bijak, menekan ego pribadi untuk kebaikan bersama…

Masih pantaskah cinta disebut cinta ?