Month: November 2014

Malu.

Ramah tamah LKMM TM selalu bisa menjadi momen yang berkesan.

Kembali merasa muda,

Kembali mengisi semangat yang mulai pudar.

Senang rasanya bisa kembali berkumpul bersama anak-anak muda, para mahasiswa yang hingga larut malam masih bersemangat, mau merelakan waktu malam minggunya untuk membicarakan hal-hal yang mungkin bagi sebagian besar orang ga penting dan ga jelas.

Di sisi lain, ramah tamah LKMM TM juga selalu bisa menjadi tamparan.

Mengingatkan sudah sejauh mana kontribusi yang bisa saya berikan kepada masyarakat sebagai seorang alumni ITS.

Seakan-akan ia berteriak dengan lantang di telinga, “Woi, ngapain aja kamu selama ini ? Ga malu sama adek-adekmu ? Mereka sudah melakukan banyak hal untuk sekitarnya. Dan kamu ?”

Itulah mengapa setiap saya diminta maju memberikan pesan dan kesan, saya tak pernah lama menatap wajah peserta dan tamu undangan.

Karena saya malu.

Malu menatap wajah para calon pemimpin masa depan. Orang-orang pilihan.

Malu melihat binar mata dan tegas suara mereka berdiskusi dan menawarkan solusi.

Malu, jika melihat bagaimana semangat dan daya juang berkobar mereka yang seakan tak kenal lelah menciptakan perubahan.

Malu belum bisa kontribusi apa-apa buat masyarakat sebagai lulusan kampus perjuangan.

Dan  jika perubahan belum bisa dilakukan, semoga malu selalu dapat menjadi pengingat dalam setiap tindakan.

Advertisements

Menyedihkan.

Menyedihkan itu adalah saat dimana engkau diminta melakukan pekerjaan yang kau senangi. Kau merasa senang dan yakin karena merasa menguasai bidang tersebut. Engkau bersemangat, mencoba berusaha sekuat tenaga, mempersiapkan diri sebaik mungkin, namun pada akhirnya tetap tak bisa menampilkan apa yang seharusnya ?

Apa sebagian orang memang didesain sulit memahami agar sang cendekia dapat bersinar terang ?

3 November 2014

3 November 2014

Tepat 5 bulan yang lalu, Engkau pergi meninggalkan kami semua..

5 bulan yang berat..

Bukan hanya berat dijalani, namun juga berat berdamai dengannya..

Jujur Pa, hingga saat ini aku masih suka bersedih atas kepergianmu.. Bukan karena aku tak rela kau pergi, tapi karena penyesalanku yang begitu besar tak mampu menggunakan waktu bersamamu untuk membuatmu bahagia..

Surat ini kutulis bukan dalam rangka menangisi kepergianmu, namun ijinkan surat ini mewakili perasaanku dan segenap kerinduanku padamu..

Pa, kalau kau ada di depanku saat ini.. Ijinkan aku menangis di pangkuanmu.. Memohon maaf.. atas semua kesalahanku padamu selama ini..

Maafkan aku Pa.. hingga akhir hayatmu, aku tidak bisa menjadi anak yang berbakti padamu.. Yang bermuka manis menyambutmu pulang… Yang menanyakan apakah kau sudah makan atau belum saat malam.. Yang menjawab pertanyaan-pertanyaanmu dengan ucapan lemah lembut.. Maafkan aku yang belum sempat membuatmu tersenyum bangga melihat kesuksesan anakmu.. Maafkan aku Pa.. (more…)