keluarga

Bahagia Itu Sederhana.

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana saat kau menungguku di pintu rumah tatkala pulang kerja, lalu kau menyambutku dengan senyuman hangat serta pelukan mesra. Lalu kau berikan ekspresi gembira saat aku membawakanmu jajanan yang kau suka.

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana saat kau membangunkanku setiap pagi untuk segera menunaikan shalat subuh, namun sering aku susah dibangunkan karena masih ngantuk.

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana saat kita belanja perabotan dan kebutuhan bulanan sambil membayangkan suasana rumah impian kita.

Bahagia itu sesederhana.

Sesederhana nasi yang baru saja kau tanak tadi pagi. Nasi pertama yang kau tanak dengan tanganmu sendiri.

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana masakan nasi gila yang pagi ini kau masak. Masakan pertama yang kau masak sendiri. Dan rasanya sunguh enak sekali. (more…)

Advertisements

Bebas, tapi Tegas.

Kali ini saya akan cerita tentang keponakan saya lagi.

Minggu lalu adalah minggu pertama tahun ajaran baru untuk sebagian besar sekolah. Para orangtua sibuk mengantarkan anak-anaknya menjalani hari pertama . Tak sedikit yang mengajak sang anak ke sekolah dari dini hari buta agar dapat tempat duduk idaman. Semua bersemangat mengantarkan sang buah hati masuk sekolah. Tak terkecuali bagi keponakan saya yang minggu lalu resmi menjalani hari pertamanya sebagai siswa Taman Kanak-Kanak.

Ia akan bersekolah di salah satu TK di dekat rumah. Selama ini, ia biasanya banyak menghabiskan waktu di rumah, bermain bersama keluarga. Karena kedua orangtua nya sama-sama bekerja, selama di rumah biasanya ia ditemani oleh tante atau neneknya. Namun kali ini agak berbeda, mengingat tantenya sudah bekerja dan neneknya yang baru pulang sore, akhirnnya disepakati setelah pulang sekolah ia akan dititpkan sementara ke baby care di TK tersebut sampai sore, sampai ada orang rumah yang pulang. (more…)

Saya Terima Nikahnya

Beberapa tahun lalu saat saya masih muda (sekarang juga masih muda sih), saya selalu heran kenapa orang-orang saat akad nikah selalu bercerita tentang gugup dan tegangnya seorang laki-laki saat prosesi ijab qabul. Kepolosan dan kurangnya ilmu membuat saya bergumam “apa sih susahnya ngomong saya terima nikahnya doang? Kenapa hal sepele semacam itu sampai bikin orang-orang tegang dan harap harap cemas?”

Ternyata saat saya makin dewasa saya baru memahami bahwa sesungguhnya kata-kata saya terima nikahnya fulanah binti fulan itu bukan hanya sekadar kata tanpa makna. Saya terima nikahnya-lah yang menjadi penanda dan momentum berpindahnya tanggung jawab dunia dan akhirat seorang wanita dari ayahandanya ke suaminya. Saat sang awali berkata “saya nikahkan anak saya” sebenarnya maknanya adalah “saya lepaskan tanggung jawab saya dalam mendidik, melindungi, dan menghidupi anak ini dan saya pindahkan padamu.” Dan saat sang pria berkata “saya terima nikahnya”, artinya semua tanggungan istri, baik duniawi mulai dari nafkah sehari-hari, uang belanja bulanan, keperluan pribadi istri, tempat tinggal, pendidikan, dan tuntunan yang baik, hingga tanggung jawab akhirat mulai dari pahala dan dosa, halal dan haram menjadi tanggung jawab sang suami. Semua itu akan ditanggung suami, tanpa terkecuali. Dan suami harus siap menerima balasannya jika lalai. (more…)