refleksi

Bebas, tapi Tegas.

Kali ini saya akan cerita tentang keponakan saya lagi.

Minggu lalu adalah minggu pertama tahun ajaran baru untuk sebagian besar sekolah. Para orangtua sibuk mengantarkan anak-anaknya menjalani hari pertama . Tak sedikit yang mengajak sang anak ke sekolah dari dini hari buta agar dapat tempat duduk idaman. Semua bersemangat mengantarkan sang buah hati masuk sekolah. Tak terkecuali bagi keponakan saya yang minggu lalu resmi menjalani hari pertamanya sebagai siswa Taman Kanak-Kanak.

Ia akan bersekolah di salah satu TK di dekat rumah. Selama ini, ia biasanya banyak menghabiskan waktu di rumah, bermain bersama keluarga. Karena kedua orangtua nya sama-sama bekerja, selama di rumah biasanya ia ditemani oleh tante atau neneknya. Namun kali ini agak berbeda, mengingat tantenya sudah bekerja dan neneknya yang baru pulang sore, akhirnnya disepakati setelah pulang sekolah ia akan dititpkan sementara ke baby care di TK tersebut sampai sore, sampai ada orang rumah yang pulang. (more…)

Bhinneka Punya Cerita

Kemarin saya berkesempatan untuk menghadiri acara TEDx TuguPahlawan : Us yang diselenggarakan di Oost Koffie and Thee Café Surabaya. Acara ini adalah acara internal TEDx TuguPahlawan yang dibuat sebagai ajang penyambutan untuk anggota baru dan rekan-rekan terdekat anggota lama dimana speaker-speakernya adalah dari anggota lama sendiri. Yup, mulai saat ini saya resmi bergabung bersama rekan-rekan di TEDx TuguPahlawan, membantu pada divisi Executive Producer, bagian yang bertanggung jawab untuk mengonsep acara dan venue semenarik mungkin. TEDx TuguPahlawan : Us kali ini mengambil tema : Bhinneka Tinggal Nama. Sebuah tema yang menurut saya cukup berani, sensitif, dan mungkin tidak semua orang mau menerima. (maka dari itu, judul tulisan ini saya bikin yang lebih halus). Tema ini sendiri diangkat melihat kondisi masyarakat Indonesia akhir-akhir ini yang begitu panas akan perang sindiran, hujatan, dan makian antar golongan, pemeluk agama, suku, dan ras di media sosial yang diawali sejak kasus penistaan agama yang dilakukan salah seorang kepala daerah, dan semakin membesar layaknya bola salju terlebih memasuki pilkada ibukota. (more…)

Makin Ngerinya Sosial Media Kita

Sosial media kita makin hari makin mengerikan. Sejak kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta non aktif, Basuki Tjahaja Purnama di Kepulauan Seribu beberapa bulan lalu, hingga terakhir saat debat calon gubernur DKI Jakarta ke dua tanggal 27 Januari kemarin, kondisi sosial media begitu gaduh, panas, dan bikin gerah. Pembuat berita seakan-akan berlomba-lomba menyebarkan berita yang penuh kebencian, menyerang pihak-pihak tertentu, memasang headline-headline provokatif tanpa mengindahkan lagi dan menjunjung tinggi kode etik jurnalisme.  Bikin berita asal-asalan, fakta dipermainkan, data dimanipulasi, yang penting laku, yang penting banyak yang ngeklik, banyak yang terpancing untuk komentar dan bertengkar,  yang penting duit, yang penting kenyang. (more…)