Refleksi Akhir Tahun (Hijriah)

Baik, hari ini saya akan sedikit berbagi tentang refleksi selama setahun ini.

Baru tanggal 20 September kok uda bikin refleksi akhir tahun?

Iya, karena ini refleksi akhir tahun hijriah. InsyaAllah besok, tanggal 21 September, akan bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1439 H. Hari pertama di tahun baru 1439 H.

Sesuai dengan judulnya, konteks refleksi yang akan dibahas dalam tulisan kali ini akan lebih menyoroti dari sisi keislaman, spiritual, akidah, ibadah, dan iman. Jadi kalau refleksi soal keduniawian, kita akan bahas InsyaAllah di refleksi akhir tahun masehi di tanggal 31 Desember. Hehe.

Alhamdulillah,

Rasanya perkataan mulia ini yang pantas menunjukkan rasa syukur saya yang begitu besar pada Allah, Rabb semesta alam. Penguasa langit dan bumi serta seluruh penghuni dan isinya.

Alhamdulillah, tahun ini begitu banyak nikmat dan kesempatan yang diberikan Allah bagi saya untuk lebih mengenal dan memahami keyakinan yang selama ini saya anut.

Tahun ini, ada beberapa momen baik secara pribadi maupun umum yang menurut saya menjadi titik balik bagi saya untuk kembali belajar apa itu Islam dan syariatnya. Mencoba menggali kembali ilmu serta ajaran dari sesuatu yang sudah diajarkan pada saya sejak kecil.

Secara garis besar, ada dua momen di tahun ini yang bisa dibilang jadi titik balik saya.

Momen titik balik yang pertama adalah soal kasus seorang kepala daerah beberapa waktu lalu,

Sebelumnya saya akan berikan disclaimer. Pertama, Kasus ini akan bisa sangat berbeda cara memahaminya, bergantung dari sudut pandang, parameter penilaian, media, serta referensi yang kita gunakan. Kedua, Saya tidak ingin mengajak Anda berdebat soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Saya hanya ingin menceritakan kasus ini dari sudut pandang saya dan apa hubungannya dengan tulisan ini.

Sejak kasus penistaan agama yang menyeret seorang kepala daerah sebagai tersangka, banyak pro kontra di kalangan masyarakat membahas kasus ini. Ada yang militan mendukung, ada yang militant menuntut, ada yang di tengah-tengah. Kedua kubu saling menyindir, saling menyalahkan, kasus yang awalnya hanya melibatkan satu orang berkembang menjadi berita nasional, sampai-sampai banyak yang bilang berkembang menjadi isu hilangnya toleransi dan kebhinnekaan. Diskusi-diskusi baik secara online atau langsung dilakukan, khususnya membahas polemik surat Al-Maidah ayat 51 yang menjadi barang bukti utama kasus ini. Semua orang menafsirkan dengan sudut pandangnya sendiri. Ada yang menjadikan tafsirannya sebagai penguat untuk menuntut, ada yang menjadikannya penguat untuk membela. Semuanya begitu bias, membingungkan orang-orang yang ingin mencari kebenaran.

Dari banyaknya tafsir akan ayat-ayat Allah ini, dari mudahnya orang menerjemahkan ayat-ayat suci dengan akal dan kemauannya sendiri, saya berpikir, ternyata selama ini pemahaman saya terhadap keyakinan saya sungguh sangat dangkal. Dan saat ada kejadian seperti ini, saya tak tahu harus berpegang kemana. Lama-kelamaan muncul dorongan dalam hati untuk kembali belajar agama. Kembali mendalami apa-apa yang selama in saya anggap sebagai ritual, tradisi, dan pelengkap semata.

Tapi dari kasus ini saya bersyukur. Umat Islam di Indonesia seakan dibangunkan kalau kita sudah terlalu lama jauh dari tuntunan agama. Terlalu lama hidup jauh dari Quran dan sunnah. Dan dari kasus ini, saya bisa melihat mana orang-orang yang menempatkan iman di atas logika, mana yang sebaliknya, dan mana yang tak menggunakan imannya sama sekali. Mana orang-orang yang mengedepankan ego dan kesombongan saat berkomentar, dan mana orang yang mengedepankan ketaatan dan kerendahhatian saat berbicara. Mana figur yang patut saya ikuti, mana yang perlu saya hindari.

Momen titik balik yang kedua adalah karena pernikahan.

Ya, di awal tahun 2017 ini Alhamdulillah saya mendapat lampu hijau untuk dapat segera melangsungkan pernikahan. Benar-benar tak disangka sebelumnya. Padahal sebelumnya, begitu sulit untuk bisa mendapatkan restu. Ada saja rintangannya. Cerita saya tentang perjuangan mendapatkan restu sempat beberapa kali saya tuliskan di blog di sini dan sini.

Setelah mendapat ijin menikah, yang ada di pikiran saya justru bukan masalah uang atau hal-hal teknis lain terkait persiapan nikah. Tapi tentang ilmu. Khususnya tentang ilmu agama. Pernikahan menuntut seorang laki-laki mengemban tanggung jawab sebagai seorang suami. Dan di antara sekian banyak tanggung jawab suami pada keluarga, salah satunya yang paling utama adalah membimbing serta menyelamatkan keluarga dari siksa api neraka. Lantas, bagaimana seorang lelaki bisa membimbing dan menyelamatkan keluarganya dari siksa api neraka kalau ia tak punya ilmu?

Salah satu alasan enggannya saya untuk belajar ilmu agama sebelumnya adalah karena takut. Takut jika saya belajar dari guru yang salah, sumber yang salah, lalu mempraktikkan ibadah dan perbuatan dengan cara yang salah. Kita tahu sendiri di Indonesia ini ada banyak sekali aliran, ajaran yang kemasannya Islam namun praktiknya tak sedikit yang jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya, sesuai Al-Quran dan Sunnah. Alhamdulillah, di era digital sekarang ini banyak sekali kemudahan dalam belajar agama. Berawal dari suka menonton share-share an video dakwah dari teman di Facebook, akhirnya saya mulai membuka video-video dakwah singkat di Youtube. Di sana saya bertemu dengan banyak sekali ustad-ustad yang ilmunya luas, tutur katanya santun, pandai menjelaskan, selalu bersumber dari sumber-sumber yang valid, dan yang paling penting rendah hati. Jauh sekali dari stereotype oknum ustad yang sering saya lihat di sekeliling. Yang ilmunya mungkin masih belum seberapa, cara menjelaskannya jauh dari kata santun dan membimbing, namun selalu minta dihormati jamaahnya. Nama-nama seperti Ustad Khalid Basalamah, Ustad Syafiq Riza, Ustad Adi Hidayat, Ustad Oemar Mita, Ustad Salim Fillah, adalah beberapa nama yang saya sering saya tonton videonya di Youtube.

Alhamdulillah, menjelang Ramadhan tahun ini saya mulai banyak belajar. Saat di kantor saya coba untuk sambil mendengarkan ceramah. Selain karena motivasi tadi yang ingin menjadi imam yang baik untuk keluarga, saya juga ingin menjadikan agama bukan sesuatu yang hanya bersifat ritual, hanya dipraktikkan dalam momen-momen tertentu saja, hanya dipelajari jika sudah lanjut usia, namun saya ingin menjadikan agama sebagai sesuatu yang dibiasakan. Sesuatu yang dijadikan keseharian. Mulai dari hal-hal kecil sehari-hari hingga hal-hal besar. Jika hal-hal kecil saja sudah tak bersumber dari Quran dan Sunnah, bagaimana memastikan hal-hal besar dapat kita lakukan sesuai dengan tuntunan dan syariat?

Jadi di tahun ini Alhamdulillah sudah ada peningkatan dari segi ibadah, meskipun saya tahu masih jauh dari kata sempurna dan masih sangat banyak kekurangan. Jujur, tak jarang ada rasa enggan dan malas beribadah muncul di hati karena takut ibadah tidak diterima saking banyaknya kekurangan dan celah dalam kualitas ibadah saya. Namun saya berdoa semoga kita semua termasuk dari hamba-hamba-Nya yang konsisten dalam beribadah. Yang selalu senantiasa memperbaiki kualitas ibadah kita. Selalu meningkatkan ketaatan pada Allah. Dan semoga Allah selalu menuntun dan membimbing kita untuk selalu dalam jalan-Nya yang lurus. Semoga Allah menerima amal shaleh kita, dan mengampuni seluruh dosa kita.

Harapan saya di tahun 1439 H ini, saya bisa makin menjadi hamba yang makin taat pada Allah. Makin menjadi hamba yang selalu memperbaiki kualitas ibadahnya. Makin mempraktikkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi laki-laki yang makin amanah dan bertanggung jawab. Menjadi anak yang makin berbakti pada orang tua. Menjadi suami yang makin sayang istri. Menjadi suami yang bertanggung jawab memenuhi hak-hak istri sesuai mitsaqan ghalizha yang sudah terucap saat akad. Dan menjadi manusia yang makin mengingat mati.

Semoga kita semua selalu diberikan perlindungan selalu oleh Allah, Tuhan Semesta Alam.

Aamiin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s