bahagia

Seandainya Kita Selalu Satu

Sejak pertama kali mendengar lagu “Seandainya Selalu Satu” yang biasanya dibawakan teman-teman Paduan Suara Mahasiswa ITS, lagu ini selalu menjadi theme song tak resmi yang selalu berputar di kepala setiap kali menghadiri perayaan wisuda.

Lagu ini benar-benar pas menggambarkan bagaimana perasaan setiap wisudawan saat diwisuda. Lirik lagunya, melodinya, vokal penyanyinya, benar-benar menggambarkan perasaan yang berkecamuk di hati setiap wisudawan. Wisuda memang pada akhirnya menjadi sebuah dilema, senang telah menuntaskan perjuangan selama kuliah, bahagia bisa membanggakan orang-orang tercinta, namun sedih karena harus berpisah dengan rekan-rekan seperjuangan yang sudah dianggap layaknya keluarga kedua, meninggalkan momen-momen manis selama di kampus untuk memasuki fase kehidupan baru.

Kisah kita ini
bukan kehendakku
juga bukan kehendakmu
tapi kehendak Nya

Kutahu tak mungkin terjadi
bagai asa yang tak bertepi

Ya, jalinan kisah ini, kisah yang sudah terlanjur tergores manis ini, memang tidak pernah jadi keinginanku, begitu pula keinginanmu, tapi sejak awal ini memang menjadi kehendakNya.. Ia yang mempertemukan, ia pula yang pada akhirnya memisahkan.

Jujur, ingin rasanya untuk terus seperti ini, terus bersama-sama seperti ini. Berbagi tawa, canda, dan duka bersama. Saling menguatkan, saling merangkul sampai nanti. Tak perlu ada perpisahan. Hanya ada kebahagiaan. (more…)

Terimakasih, Ibu Penjual Terang Bulan !

Seharian kemarin cuaca Surabaya seakan tidak bersahabat dengan aktivitas warganya. Mulai dari pagi hari hingga malam, hujan rintik-rintik membasahi setiap jengkal bumi Kota Pahlawan. Namun ternyata cuaca yang kata orang cukup romantis ini tidak juga bisa bikin penat di kepala saya hilang sepenuhnya. Dari beberapa hari sebelumnya, isi kepala ini diisi berbagai hal yang keluar masuk seakan minta untuk terus dipikirkan. Mulai dari masalah karir, keluarga, ekonomi, sosial, semua campur aduk di pikiran.

Malamnya, saya diminta tolong Bapak untuk membeli martabak dan terang bulan. Beliau bilang untuk makan pagi Ibu. Akhirnya saya berangkat menuju Pasar Pucang, pasar yang tidak terlalu jauh dari rumah untuk menuju lokasi penjual martabak dan terang bulan langganan.

my precious...

my precious…

Sesampainya di Pasar Pucang, saya segera mencari lokasi penjual martabak terang bulan langganan. Malang bagi saya, sesampainya disana mas mas penjualnya bilang kalau martabak terang bulannya sudah habis. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari penjual martabak terang bulan di dekat sana.

Tidak jauh dari penjual martabak pertama, terdapat penjual martabak dan penjual terang bulan (ya, 1 rombong martabak dan 1 rombong terang bulan, bukan 1 rombong martabak dan terang bulan) berjejer berdekatan. Saya memutuskan untuk membeli disana mengingat waktu semakin larut dan saya tidak ingin kembali kehabisan.

Saya memesan martabak pada rombong pertama. Penjual rombong ini adalah 2 orang laki-laki berusia sekitar 25-30 an. Satu orang bertugas meracik adonan, satu lagi bertugas menggoreng martabak.

Setelah memesan martabak, saya segera beralih ke rombong terang bulan di sebelahnya. Penjual terang bulan ini adalah seorang ibu berusia sekitar 40-50 tahun. Berperawakan agak gemuk dan berpotongan rambut pendek sebahu. Ibu ini berjualan dengan ditemani oleh kedua orang anaknya. 2 anaknya sama-sama perempuan, yang paling kecil masih balita dan kakaknya berusia sekitar 8-10 tahun.

(more…)