Akhirnya Aku Bisa Memanggilmu, Istriku.

Alhamdulillah,

Segala puji kepada Allah, Tuhan semesta alam.

Rasanya tak ada kalimat yang pantas diucapkan selain kalimat mulia itu.

Hari ini rasanya seperti mimpi.

Hati ini sungguh masih merasa tak bisa percaya hari ini bisa terjadi.

Perjuangan bertahun-tahun untuk bisa mewujudkan impian membangun bahtera rumah tangga.

Kepastian hubungan yang sempat seringkali tak tentu bagaimana jadinya.

Semangat yang patah yang berkali-kali datang.

Hari ini impian yang didambakan bertahun-tahun itu dapat terwujud.

Rasanya masih tak percaya, hari ini aku datang ke rumahmu memakai baju paling bagus yang pernah ku kenakan.

Diantar oleh mama, adek, inyik-inyik, nenek-nenek, om, tante, yang justru kebanyakan dari luar kota.

Datang ke rumahmu membawa hantaran dan niat tulus.

Niat tulus untuk membina hubungan rumah tangga, dan membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.

Saudara-saudara dan kerabat berkata padaku mukaku begitu tegang saat detik-detik prosesi akad.

Kau tahu sayang? Apa yang mereka katakan memang benar.

Aku sangat takut prosesi paling sakral dalam rangkaian hari pernikahan ini berjalan di luar yang diharapkan. Itulah mengapa aku berlatih setiap hari sebelum hari ini. Aku takut aku tak mampu mengucapkan kalimat ijab labul dengan lancar dan dalam satu tarikan nafas, mengingat kebiasaanku yang kalau sudah grogi maka menjadi gagap dan tidak jelas saat berbicara.

Apalagi saat gladi bersih sesaat sebelum prosesi akad, Pak Penghulu bilang ada beberapa bagian dari kalimat yang ku ucapkan yang kurang.

“Rabbish rahli sadri. Wa yassirli amri. Wah lul uqdatan min lisaani. Yaf kahu kauli”, Aku terus komat kamit mengucapkan doa Nabi Musa saat akan mendakwahi Firaun dengan harapan Allah berkenan menenangkan hatiku, melapangkan dadaku, melancarkan lisanku saat menyampaikan kalimat akad.

Alhamdulillah akhirnya Allah memberikan kemudahan dalam mengucapkan kalimat mulia itu.

Ketika para saksi mengucapkan sah, seketika itu semua ketegangan dalam diri mencair.

Aku menangis dalam doa yang dipimpin Pak Penghulu. Tangisan bahagia sekaligus kekhawatiran akan tanggung jawab yang begitu berat dan konsekuensi yang akan diterima jika lalai menjalankan kewajiban sebagai suami.

Dan saat pertama kali melihatmu keluar dari rumah, aku terkagum. Kau sungguh cantik. You look so beautiful in white, warna putih, warna baju pernikahan kita.

Kau cium tanganku. Kau pasangkan cincin itu di jari manisku. Ku lakukan hal yang sama padamu.

Lalu kita berfoto sambil menunjukkan buku nikah masing-masing. Didampingi keluarga kita masing-masing.

Dan sahlah kita mulai hari ini sebagai sepasang suami istri.

Sayang, sungguh hari ini aku sangat bahagia.

Semoga kisah kita yang berawal hari ini dapat kita jaga terus berdua.

Semoga bahtera yang kita bina mampu menjadi bahtera yang berhasil tak hanya di dunia, namun juga di akhirat.

Semoga aku mampu menjadi suami dan imam terbaik untukmu.

Yang mampu menjagamu, melindungimu, membimbingmu, menafkahimu, membahagiakanmu, dan melindungimu dari api neraka.

Semoga kita berdua selalu bisa saling menguatkan sampai akhir.

Mari kita hadapi dunia berdua.

Dan hari ini akhirnya aku bisa dengan bangga dan bahagia mengatakan,

Bahwa aku mencintaimu,

Istriku.

 

Ditulis dengan perasaan bahagia di sebuah kamar sederhana.

Surabaya, 2 September 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s