surabaya

Bhinneka Punya Cerita

Kemarin saya berkesempatan untuk menghadiri acara TEDx TuguPahlawan : Us yang diselenggarakan di Oost Koffie and Thee Café Surabaya. Acara ini adalah acara internal TEDx TuguPahlawan yang dibuat sebagai ajang penyambutan untuk anggota baru dan rekan-rekan terdekat anggota lama dimana speaker-speakernya adalah dari anggota lama sendiri. Yup, mulai saat ini saya resmi bergabung bersama rekan-rekan di TEDx TuguPahlawan, membantu pada divisi Executive Producer, bagian yang bertanggung jawab untuk mengonsep acara dan venue semenarik mungkin. TEDx TuguPahlawan : Us kali ini mengambil tema : Bhinneka Tinggal Nama. Sebuah tema yang menurut saya cukup berani, sensitif, dan mungkin tidak semua orang mau menerima. (maka dari itu, judul tulisan ini saya bikin yang lebih halus). Tema ini sendiri diangkat melihat kondisi masyarakat Indonesia akhir-akhir ini yang begitu panas akan perang sindiran, hujatan, dan makian antar golongan, pemeluk agama, suku, dan ras di media sosial yang diawali sejak kasus penistaan agama yang dilakukan salah seorang kepala daerah, dan semakin membesar layaknya bola salju terlebih memasuki pilkada ibukota. (more…)

Gratis.

Hari ini semua orang di Surabaya mengutuk Ice Cream Walls.

Gimana engga ? Hanya dalam waktu kurang lebih 1 jam, taman kebanggaan warga Surabaya, Taman Bungkul berubah dari taman terbaik sedunia menjadi semak belukar terbaik sedunia.

Hari ini, Minggu 11 Mei 2014 Walls mengadakan Walls Ice Cream Day serentak di beberapa kota di Indonesia, tidak terkecuali Surabaya. Diadakan di Taman Bungkul, dalam acara ini Walls membagi-bagikan es krim GRATIS bagi seluruh warga Surabaya yang datang dengan syarat memakai baju warna merah.

Kenapa saya caps lock kata GRATIS ? Karena dari kata inilah petaka bagi Taman Bungkul bermula.

GRATIS, magnet bagi siapapun yang melihatnya, khususnya buat orang Indonesia.

Apapun barangnya, mahal atau tidak, biasa atau tidak, asal GRATIS pasti akan menarik minat untuk berbondong-bondong mendapatkannya.

Sudah sering kita dengar berita pembagian sembako GRATIS yang selalu dibanjiri masyarakat. Baik yang benar-benar kurang mampu atau (mendadak merasa) kurang mampu. Dan sedihnya, setiap ada pembagian sembako GRATIS hampir selalu ada masalah disana. Mulai dari desak-desakan, rebut-rebutan, dorong-dorongan, ga kebagian sembako, hingga yang paling parah jatuhnya korban jiwa karena terinjak-injak.

Ga bisa dipungkiri, sebagian besar dari kita dididik sejak kecil untuk mengaplikasikan salah satu hukum ekonomi paling mendasar, menekan pengeluaran sekecil-kecilnya. Sayangnya, penerapan hal ini cenderung ke arah yang salah, kita cenderung jadi pelit, dan cenderung seneng dan bangga kalo dapet barang GRATISan. Sebenernya hal ini ga sepenuhnya salah jika hanya sekali dua kali, namun jika dibiarkan terus-terusan, ini akan menjadi kebiasaan, akan menjadi karakter kita sendiri.

(more…)

Terimakasih, Ibu Penjual Terang Bulan !

Seharian kemarin cuaca Surabaya seakan tidak bersahabat dengan aktivitas warganya. Mulai dari pagi hari hingga malam, hujan rintik-rintik membasahi setiap jengkal bumi Kota Pahlawan. Namun ternyata cuaca yang kata orang cukup romantis ini tidak juga bisa bikin penat di kepala saya hilang sepenuhnya. Dari beberapa hari sebelumnya, isi kepala ini diisi berbagai hal yang keluar masuk seakan minta untuk terus dipikirkan. Mulai dari masalah karir, keluarga, ekonomi, sosial, semua campur aduk di pikiran.

Malamnya, saya diminta tolong Bapak untuk membeli martabak dan terang bulan. Beliau bilang untuk makan pagi Ibu. Akhirnya saya berangkat menuju Pasar Pucang, pasar yang tidak terlalu jauh dari rumah untuk menuju lokasi penjual martabak dan terang bulan langganan.

my precious...

my precious…

Sesampainya di Pasar Pucang, saya segera mencari lokasi penjual martabak terang bulan langganan. Malang bagi saya, sesampainya disana mas mas penjualnya bilang kalau martabak terang bulannya sudah habis. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari penjual martabak terang bulan di dekat sana.

Tidak jauh dari penjual martabak pertama, terdapat penjual martabak dan penjual terang bulan (ya, 1 rombong martabak dan 1 rombong terang bulan, bukan 1 rombong martabak dan terang bulan) berjejer berdekatan. Saya memutuskan untuk membeli disana mengingat waktu semakin larut dan saya tidak ingin kembali kehabisan.

Saya memesan martabak pada rombong pertama. Penjual rombong ini adalah 2 orang laki-laki berusia sekitar 25-30 an. Satu orang bertugas meracik adonan, satu lagi bertugas menggoreng martabak.

Setelah memesan martabak, saya segera beralih ke rombong terang bulan di sebelahnya. Penjual terang bulan ini adalah seorang ibu berusia sekitar 40-50 tahun. Berperawakan agak gemuk dan berpotongan rambut pendek sebahu. Ibu ini berjualan dengan ditemani oleh kedua orang anaknya. 2 anaknya sama-sama perempuan, yang paling kecil masih balita dan kakaknya berusia sekitar 8-10 tahun.

(more…)