mental

Bebas, tapi Tegas.

Kali ini saya akan cerita tentang keponakan saya lagi.

Minggu lalu adalah minggu pertama tahun ajaran baru untuk sebagian besar sekolah. Para orangtua sibuk mengantarkan anak-anaknya menjalani hari pertama . Tak sedikit yang mengajak sang anak ke sekolah dari dini hari buta agar dapat tempat duduk idaman. Semua bersemangat mengantarkan sang buah hati masuk sekolah. Tak terkecuali bagi keponakan saya yang minggu lalu resmi menjalani hari pertamanya sebagai siswa Taman Kanak-Kanak.

Ia akan bersekolah di salah satu TK di dekat rumah. Selama ini, ia biasanya banyak menghabiskan waktu di rumah, bermain bersama keluarga. Karena kedua orangtua nya sama-sama bekerja, selama di rumah biasanya ia ditemani oleh tante atau neneknya. Namun kali ini agak berbeda, mengingat tantenya sudah bekerja dan neneknya yang baru pulang sore, akhirnnya disepakati setelah pulang sekolah ia akan dititpkan sementara ke baby care di TK tersebut sampai sore, sampai ada orang rumah yang pulang. (more…)

Advertisements

[Repost] Pelajaran dari Tanah Jerman

Tulisan ini disalin dari fanpage : Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia dengan saduran seperlunya.

Jerman adalah sebuah negara industri terkemuka. Di negara seperti ini, banyak yang mengira warganya hidup foya-foya.

Ketika saya tiba di Hamburg, saya bersama rekan-rekan masuk ke restoran. Kami lihat banyak meja kosong. Ada satu meja dmana sepasang anak muda sedang makan. Hanya ada dua piring makanan & dua kaleng minuman di meja mereka.

Saya bertanya dalam hati apa hidangan yang begitu sederhana dapat disebut romantis & apa si gadis akan meninggalkan si pemuda kikir tersebut?

Kemudian ada lagi beberapa wanita tua di meja lainnya. Ketika mkanan dihidangkan, pelayan membagi mkanan tersebut & mereka menghabiskan tiap butir makanan yg ada di piring mereka.

Karena kami lapar, rekan kami pesan lebih banyak makanan. Saat selesai, tersisa kira-kira sepertiganya yg tidak dapat kami habiskan di meja. Begitu kami hendak meninggalkan restoran, wanita tua yg dari meja sebelah berbicara pada kami dalam bahasa Inggris, kami dan teman-teman paham bahwa mereka tidak senang kami memubadzirkan makanan. (more…)

Lahirnya Republik Nyinyir dan Ideologi Tuh-kanisme

Tulisan ini disalin dari http://delmarzf.blogspot.com/2014/06/lahirnya-republik-nyinyir-dan-ideologi.html dengan judul yang sama. Tulisan yang menarik karena membuka wawasan saya akan potensi masalah mental dan karakter yang timbul dalam Pemilu tahun ini. Semoga bermanfaat.

Beberapa bulan terakhir, iklim media sosial semakin panas. Pemilihan presiden yang akan diselenggarakan 9 Juli besok ternyata membawa dampak yang besar di beberapa bulan terakhir. Dampak yang sebenarnya mungkin sepele, tapi setelah saya pikir-pikir kembali bisa sangat mengkhawatirkan. Sejelek-jeleknya, mungkin bisa menghancurkan asas ke-3 Pancasila : Persatuan Indonesia. Sebelum saya lanjut, saya mau bilang dulu bahwa berhubung saya bukan mahasiswa jurusan sosial atau humaniora, sangat-sangat bisa jadi apa yang saya tuliskan salah. Mohon maklum, di bangku kuliah saya cuma belajar tentang bikin onggok sama gaplek.

Pilpres 2014 adalah ajang pemilihan presiden paling unik setelah masa reformasi. Untuk pertama kalinya pemilihan presiden hanya terdiri dari dua pasang calon. Sebelum-sebelumnya calonnya lebih dari dua, meski tetap direduksi jadi dua di pemilu putaran dua. Hal ini membuat pilihan masyarakat menjadi sangat kontras. Pilih Prabowo, atau pilih Jokowi. Bulat.

234Beda dengan tahun-tahun sebelumnya saat pilihan-pilihan yang dibuat tidak terlalu solid. Katakanlah saat pemilu 2004, ada 5 pasang calon yang bertarung, yakni Amien Rais-Siswono Yudho Husodo (PAN), Hamzah Haz-Agum Gumelar (PPP), Megawati-Hasyim Muzadi (PDIP), SBY-JK (Demokrat, PBB, PK), dan Wiranto-Shalahudin Wahid (Golkar). Sementara itu di tahun 2009 ada 3 pasang calon, Megawati-Prabowo, SBY-Boediono, dan JK-Wiranto. Di tahun 2004 distribusi suara merata sekali, dengan partai-partai besar (PDIP, PAN, PPP, Demokrat, dan Golkar) masing-masing punya calonnya sendiri-sendiri. (more…)