Month: August 2015

Bersosialisasi, berbaur, menanggalkan semua atribut diri, menyatu dalam keberagaman bermasyarakat. Memahami kota dan penduduknya, melihat seksama lingkungan sekitar, bersyukur atas semua yang telah diberikan Yang Kuasa.

Di tengah majunya teknologi, kencangnya roda bisnis, tekanan pekerjaan dan tanggung jawab sehari hari, marilah sejenak kita kembali menjadi manusia seutuhnya, mendongakkan kepala ke atas, mengarahkan pandangan ke depan, memasang wajah ramah dan senyum manis, seraya berkata “Selamat Pagi!”

(Taman Bungkul Surabaya, Agustus 2015)

View on Path

Advertisements

ICU, Kelabu, dan Kenanganmu.

*foto di atas hanya ilustrasi*

Pagi ini, saya main ke ICU untuk cek progress implementasi ISO 9001 di unit tersebut. Saat sedang interview dengan perawat, saya observasi keadaan dan situasi di ruang ICU. Di sana saya melihat ada dua orang pasien. Satu orang ditunggui oleh dua orang, pria dan wanita. Sementara satu lagi sendiri hanya dijaga oleh seorang perawat lain. Saya perhatikan lagi wajah kedua orang penunggu ini begitu sedih dan gusar. Si pria berulang kali tertunduk sedih, si wanita menangis dan hampir selalu memeluk pasien.

Melihat hal ini, saya bertanya β€œBu, itu pasiennya memang ada yang jaga ya? Bukannya di aturan ruang ICU tidak boleh ada yang jaga?”. Perawat menjawab β€œBenar Pak, tapi untuk kasus-kasus khusus seperti kondisi pasien terminal, kritis, yang harapan hidupnya sudah tipis, kami memberikan kesempatan keluarga untuk menunggu hingga detik-detik terakhir pasien tidak ada. Di samping memberikan dukungan psikologis juga agar keluarga tidak denial saat mendengar kabar pasien tidak ada”. Dalam hati saya berharap semoga si pasien dapat diberikan kesembuhan, mengingat saya juga pernah ada di posisi keluarganya.

Siang hari, beberapa kali saya melewati ruang tunggu ICU, tampak semakin banyak orang yang menunggu, wajah mereka murung, sedih. Dalam hati saya berkata mungkin mereka keluarga orang yang tadi saya lihat di ruang ICU tadi. Dan sore tadi, tepat saat maghrib saat sedang melintas di lorong saya berpapasan dengan sebuah keranda keluar dari ruang jenazah. Rupanya hari ini adalah pertemuan pertama dengan sang pasien, pertemuan pertama di hari terakhirnya di dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga keluarga yang ditinggal diberikan ketabahan dan kesabaran.

Jadi semakin inget kamu Pa. 😦

Wawancara dengan Driver GOJEK

Meet Pak Hary Siswanto, driver GOJEK yang mengantar saya malam ini.
Dalam perjalanan pulang dari East Coast Center ke rumah tadi saya mendapat banyak hal dan pelajaran darinya. Pak Hary sudah lebih dari 4 bulan bergabung di GOJEK. Hari ini dia sudah mendapat lebih dari 40 order. Dengan satu order seharga 10 ribu satu hari beliau biasa dapat hingga 500 ribu. Bahkan pernah beliau mendapat hingga 900 ribu satu harinya.
Dari yang sebelumnya bekerja harian di pabrik meubel dengan upah 50 ribu per hari sekarang ia bisa dapat berpuluh puluh kali lipat satu harinya. Pemasukannya pun tidak dipotong ini itu, hanya dipotong sebesar 20% untuk GOJEK setiap harinya.
Pak Hary bercerita satu bulan ia biasa mendapat pemasukan 4-6 juta. Dengan waktu kerja yang bebas, karena tidak ada jam operasional bagi driver GOJEK. Kalau ada order masuk, ambil, kalau capek ya pass saja. Terserah drivernya.
Di akhir sesi, Pak Hary sempat berujar “Mas kalau punya motor, daripada nganggur mending diikutkan GOJEK aja. Pagi sampai sore kerja kantoran, malam nya narik ojek. Banyak teman teman saya yang begitu mas. Lumayan buat tambah-tambah.” πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…
Kayaknya kedepannya bisa dipertimbangkan nih, Pak Hary. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

View on Path