perjuangan

[Repost] Bagaimana Kacaunya Hidup Saya Setelah Keluar dari Perusahaan Bergengsi dan Memilih Mendirikan Startup

Tulisan ini disalin dari https://id.berita.yahoo.com/bagaimana-kacaunya-hidup-saya-setelah-keluar-dari-perusahaan-112132079.html tanpa disadur kembali.

SMS masuk:

“Besok jam 5 pagi, penerbangan nomor AZ610 dari Roma ke New York.”

Sebuah SMS yang masuk di BlackBerry saya pada hari Minggu sore dulu selalu menjadi rutinitas yang menentukan di mana tujuan dan siapa klien saya untuk minggu mendatang.

Saya dulu bekerja di salah satu dari tiga perusahaan konsultasi strategi bisnis terbesar di dunia. Sebuah kehidupan di dalam sebuah koper. Sebuah kehidupan konsultasi dimana Anda ketinggalan update tentang segala sesuatu dan semua orang dalam hidup Anda, kecuali spreadsheet Excel. Sebuah pekerjaan impian yang, menurut sekolah-sekolah bisnis ternama, ideal.

Setelah beberapa jam tidur, supir pribadi membawa saya ke bandara Roma Fuimicino dimana saya akan melakukan perjalanan ke New York dengan penerbangan kelas bisnis yang mewah. Setelah tiba, saya akan check-in ke sebuah hotel bintang lima mewah dan menuju ke kantor klien saya setelah itu.

Gaji? Luar biasa. Perusahaan tempat saya bekerja merasa bangga telah menjadi salah satu perusahaan bergaji tinggi di ranah konsultasi bisnis. (more…)

Pintu.

Senin sore ini agak berbeda dari biasanya.

Di tengah udara sore Depok yang hangat, di tengah keletihan raga setelah seharian bekerja yang merengek meminta segera kembali ke peraduan, sebuah pesan tiba di telepon genggam. Dari Bu Manager. Kurang lebih begini isinya.

Diaz, biar lebih greget pemahamanmu tentang HR, saya kasih dirimu target bulan ini harus capai target pelamar minimal 100 orang, lulus 40% dengan memanfaatkan demografi penduduk yang ada di Pool Cimanggis. Kerjasama dengan tim yang diperlukan. Semangat ya. Akhir Januari presentasi pencapaiannya. Thx

Saat membaca pesan ini jujur saya bingung harus bagaimana. Di satu sisi kaget, takut, namun di sisi lain jujur saya senang.

Kaget, karena begitu mendadak. Takut karena jujur saya takut gagal. Takut salah. Takut penugasan ini akan mengganggu tanggung jawab – tanggung jawab yang sudah diembankan kepada saya sebelumnya. Takut tidak bisa menyelesaikan apa yang ditugaskan.

(more…)