kehidupan

Bebas, tapi Tegas.

Kali ini saya akan cerita tentang keponakan saya lagi.

Minggu lalu adalah minggu pertama tahun ajaran baru untuk sebagian besar sekolah. Para orangtua sibuk mengantarkan anak-anaknya menjalani hari pertama . Tak sedikit yang mengajak sang anak ke sekolah dari dini hari buta agar dapat tempat duduk idaman. Semua bersemangat mengantarkan sang buah hati masuk sekolah. Tak terkecuali bagi keponakan saya yang minggu lalu resmi menjalani hari pertamanya sebagai siswa Taman Kanak-Kanak.

Ia akan bersekolah di salah satu TK di dekat rumah. Selama ini, ia biasanya banyak menghabiskan waktu di rumah, bermain bersama keluarga. Karena kedua orangtua nya sama-sama bekerja, selama di rumah biasanya ia ditemani oleh tante atau neneknya. Namun kali ini agak berbeda, mengingat tantenya sudah bekerja dan neneknya yang baru pulang sore, akhirnnya disepakati setelah pulang sekolah ia akan dititpkan sementara ke baby care di TK tersebut sampai sore, sampai ada orang rumah yang pulang. (more…)

Advertisements

Saya Terima Nikahnya

Beberapa tahun lalu saat saya masih muda (sekarang juga masih muda sih), saya selalu heran kenapa orang-orang saat akad nikah selalu bercerita tentang gugup dan tegangnya seorang laki-laki saat prosesi ijab qabul. Kepolosan dan kurangnya ilmu membuat saya bergumam “apa sih susahnya ngomong saya terima nikahnya doang? Kenapa hal sepele semacam itu sampai bikin orang-orang tegang dan harap harap cemas?”

Ternyata saat saya makin dewasa saya baru memahami bahwa sesungguhnya kata-kata saya terima nikahnya fulanah binti fulan itu bukan hanya sekadar kata tanpa makna. Saya terima nikahnya-lah yang menjadi penanda dan momentum berpindahnya tanggung jawab dunia dan akhirat seorang wanita dari ayahandanya ke suaminya. Saat sang awali berkata “saya nikahkan anak saya” sebenarnya maknanya adalah “saya lepaskan tanggung jawab saya dalam mendidik, melindungi, dan menghidupi anak ini dan saya pindahkan padamu.” Dan saat sang pria berkata “saya terima nikahnya”, artinya semua tanggungan istri, baik duniawi mulai dari nafkah sehari-hari, uang belanja bulanan, keperluan pribadi istri, tempat tinggal, pendidikan, dan tuntunan yang baik, hingga tanggung jawab akhirat mulai dari pahala dan dosa, halal dan haram menjadi tanggung jawab sang suami. Semua itu akan ditanggung suami, tanpa terkecuali. Dan suami harus siap menerima balasannya jika lalai. (more…)

ICU, Kelabu, dan Kenanganmu.

*foto di atas hanya ilustrasi*

Pagi ini, saya main ke ICU untuk cek progress implementasi ISO 9001 di unit tersebut. Saat sedang interview dengan perawat, saya observasi keadaan dan situasi di ruang ICU. Di sana saya melihat ada dua orang pasien. Satu orang ditunggui oleh dua orang, pria dan wanita. Sementara satu lagi sendiri hanya dijaga oleh seorang perawat lain. Saya perhatikan lagi wajah kedua orang penunggu ini begitu sedih dan gusar. Si pria berulang kali tertunduk sedih, si wanita menangis dan hampir selalu memeluk pasien.

Melihat hal ini, saya bertanya “Bu, itu pasiennya memang ada yang jaga ya? Bukannya di aturan ruang ICU tidak boleh ada yang jaga?”. Perawat menjawab “Benar Pak, tapi untuk kasus-kasus khusus seperti kondisi pasien terminal, kritis, yang harapan hidupnya sudah tipis, kami memberikan kesempatan keluarga untuk menunggu hingga detik-detik terakhir pasien tidak ada. Di samping memberikan dukungan psikologis juga agar keluarga tidak denial saat mendengar kabar pasien tidak ada”. Dalam hati saya berharap semoga si pasien dapat diberikan kesembuhan, mengingat saya juga pernah ada di posisi keluarganya.

Siang hari, beberapa kali saya melewati ruang tunggu ICU, tampak semakin banyak orang yang menunggu, wajah mereka murung, sedih. Dalam hati saya berkata mungkin mereka keluarga orang yang tadi saya lihat di ruang ICU tadi. Dan sore tadi, tepat saat maghrib saat sedang melintas di lorong saya berpapasan dengan sebuah keranda keluar dari ruang jenazah. Rupanya hari ini adalah pertemuan pertama dengan sang pasien, pertemuan pertama di hari terakhirnya di dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga keluarga yang ditinggal diberikan ketabahan dan kesabaran.

Jadi semakin inget kamu Pa. 😦