Bahagia Itu Sederhana.

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana saat kau menungguku di pintu rumah tatkala pulang kerja, lalu kau menyambutku dengan senyuman hangat serta pelukan mesra. Lalu kau berikan ekspresi gembira saat aku membawakanmu jajanan yang kau suka.

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana saat kau membangunkanku setiap pagi untuk segera menunaikan shalat subuh, namun sering aku susah dibangunkan karena masih ngantuk.

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana saat kita belanja perabotan dan kebutuhan bulanan sambil membayangkan suasana rumah impian kita.

Bahagia itu sesederhana.

Sesederhana nasi yang baru saja kau tanak tadi pagi. Nasi pertama yang kau tanak dengan tanganmu sendiri.

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana masakan nasi gila yang pagi ini kau masak. Masakan pertama yang kau masak sendiri. Dan rasanya sunguh enak sekali.

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana bekal makanan yang kau berikan padaku barusan dengan menyusulku ke kantor sebelum kau berangkat kuliah.

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana kemauan dan kerelaanmu untuk mengurus rumah dan menyiapkan kebutuhanku, seseorang yang sebelumnya bukan siapa-siapa bagimu.

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana kamar tidur kita yang cukup pengap namun menjadi hangat saat kita berdua di dalamnya.

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana dirimu yang masih bisa bersikap biasa saat menghitung alokasi pengeluaran bulanan yang perlu dikeluarkan walaupun tahu kita masih perlu berjuang untuk lebih mendapat pemasukan.

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana saat kita bersama memburu tikus yang meneror rumah kita dengan membawa sapu, sambil mata awas melihat pergerakan di seisi ruangan, namun kau masih memberanikan diri walaupun aku tahu kau takut setengah mati.

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana sikapmu yang sering menolak saat ku tawari makan di tempat yang menurutmu berlebihan  yang mungkin bagi sebagian orang justru adalah hal biasa. Sesederhana dirimu yang santai-santai saja diajak makan di pinggir jalan raya.

Bahagia itu sederhana.

Sesederhana sikapmu yang tak pernah memandang materi dan omongan orang sebagai ukuran utama kebahagiaan rumah tangga kita, namun lebih pada kesungguhan kita dalam menggapai impian dan cita-cita bersama.

Ya, bahagia itu memang sederhana.

Namun cintamu yang luar biasa yang membuatnya bermakna.

Untuk seseorang yang ku rela mengorbankan jiwa dan raga untuknya,

Hanya tulisan ini yang bisa aku sampaikan.

Hanya terimakasih yang bisa ku ucapkan.

Terimakasih sudah percaya.

Terimakasih sudah mau menerima.

Terimakasih, Cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s