islami

Ternyata Saya Masih Rasis

Kali ini saya mau membagikan kisah singkat saja. Semoga ada pelajaran yang bisa diambil.

Hari ini saya jalan-jalan ke salah satu mall di wilayah barat Surabaya. Sembari cuci mata, melepas penat, juga sekalian ingin menghabiskan waktu di hari libur terakhir tahun baru. Tapi tentunya yang namanya jalan-jalan tentu jangan sampai melupakan kewajiban. Dan salah satu kewajiban mendasar seorang muslim adalah mendirikan shalat 5 waktu.

Nah, ada yang menarik saat saya hendak menunaikan shalat maghrib di musholla mall. Saat saya hendak wudhu saya melihat ada seorang pria usia 20 tahunan, tubuh agak besar, wajah keturunan tionghoa masuk ke ruang wudhu. Saya perhatikan sejenak hendak apa orang ini. Saya perhatikan lagi gerak-geriknya tidak terlihat seperti orang mau wudhu. Tidak menggulung celana, tidak pasang gerakan wudhu, tapi sepintas cuma terlihat seperti mau cuci muka. Jadi saya berasumsi oh mungkin orang ini mau sekadar cuci muka saja. Sempat kepikiran juga, ngapain ada orang keturunan tionghoa masuk musholla. Meskipun memang ga semua orang keturunan tionghoa itu non muslim, tapi tetap saja karena jarang ngelihatnya jadi agak sangsi. Akhirnya saya kembali melanjutkan untuk ambil wudhu. (more…)

Allah Ingin Saya Bersyukur

Beberapa hari ini saya dilanda rasa sumpek yang begitu hebat. Hati ini terasa begitu berat seakan dihinggapi berbagai penyakit hati stadium lanjut. Mulai dari pesimisme, iri hati, dengki, sombong semua bercampur jadi satu. Semua ini membuat hidup saya begitu menyedihkan. Tidak banyak yang bisa saya hasilkan, yang ada hanya berpikir dan berpikir. Memikirkan ketakutan-ketakutan yang bertambah seiring bertambahnya hari.

Pagi tadi, setelah shalat Subuh saya melihat salah satu tayangan siraman rohani di televise. Kebetulan saat itu Ustadz Yusuf Mansyur yang sedang memberikan tausyiah. Dalam tayangan tersebut beliau mengatakan “Jika kita sedang bingung dan tidak tahu jawaban dari suatu persoalan, segera ambil wudhu, lakukan shalat 2 rakaat, dan mulailah berbicara dengan Allah.” Tidak usah berpikir apa kata-kata yang tepat, bagaimana memintanya, dan hal-hal rumit lainnya. Cukup tadahkan tangan, dan berbicaralah mengenai masalah yang tengah kita hadapi.

Setelah shalat Ashar, saya mencoba untuk mempraktekkan hal tersebut. Saya tadahkan tangan dan mulai berbicara. Saya curahkan segala uneg-uneg yang ada di hati. Saya utarakan dengan kalimat yang tidak beraturan yang mengindikasikan betapa ruwetnya keadaan hati ini. Saya coba gunakan teknik berdoa yang baik dari semua ilmu yang saya tahu semampu saya. Semuanya murni saya lakukan untuk mendapat secercah cahaya dari lorong kebingungan hidup yang semakin panjang di hati saya.

Selepas Maghrib, saya menyempatkan diri untuk membaca Al-Qur’an. Saya biasa membaca per surat, karena di samping memudahkan saya untuk mengetahui check point saat mengaji, juga karena bacaan yang saya selesaikan sudah memasuki juz-juz terakhir dimana surat-surat yang ada relatif tidak terlalu panjang.

Saat membuka catatan surat terakhir yang saya baca, saya cukup kaget karena ternyata hari ini surat pertama yang akan saya baca adalah Surat Ar-Rahman. Sebuah surat dimana kalimat “Fabi ayyi ala i rabbikuma tukazziban” (Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan ?) diulang berkali-kali. Sebuah surat yang sering dimainkan menjelang shalat Isya di mesjid-mesjid yang mengajarkan pada kita akan arti penting bersyukur.

(more…)