Pemandu. Passion, Pengakuan, atau Batu Loncatan ?

Tulisan ini saya tujukan untuk semua adik-adik pemandu LKMM aktif ITS dan saya harapkan dapat dibaca, dipahami, dan direnungkan oleh seluruh pemandu LKMM kebanggaan kampus pahlawan.

“Salam Mas Diaz. Perkenalkan sebelumnya, saya Tommy, saya pemandu FTIf angkatan 2012. Apa kabar Mas?  Mas, saya ingin mengiformasikan insyaallah tgl 24 Feb 2013 akan diadakan Upgrading Pemandu FTIf, dimana acara ini bertujuan untuk menjadi wadah sharing dan upgrade pemandu sebelum pelaksanaan LKMM TD di masing-masing jurusan.. Tempat : Gedung Jurusan Sistem Informasi Waktu : 08.30 – 18. 00 Acara : Pembahasan materi TD bersama, sharing, outbound / teambuilding dan acara seru lainnya. Kehadiran Mas sangat kami harapkan untuk dapat memeriahkan acara ini..  dimohon konfirmasi bisa/tidak hadirnya yaa mas doakan agar pemandu FTIf bisa menjadi pemandu yang lebih baik lagi kedepannya

terimakasih atas perhatiannya,

salam rindu dari kami

-Pemandu FTIf-“

Kutipan di atas adalah isi pesan dari adek angkatan saya di kampus, Tommy seorang mahasiswa Teknik Informatika angkatan 2011. Dia mengundang saya untuk hadir dalam acara upgrading pemandu FTIF yang diadakan di kampus. Sebuah forum dimana pemandu LKMM FTIF berkumpul, bersilaturahim, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi pelaksanaan LKMM Tingkat Dasar yang akan segera dihelat di masing-masing jurusan. Sebuah tawaran yang tidak bisa saya tolak. Sebuah tawaran yang saya rindukan.

Sekadar menyamakan persepsi, pemandu adalah salah satu elemen penting dalam sebuah pelaksanaan LKMM. LKMM sendiri adalah suatu pelatihan berjenjang yang berfokus pada peningkatan kemampuan dan keterampilan manajemen dan kepemimpinan mahasiswa. Pemandu adalah orang yang bertanggung jawab penuh terhadap pelaksanaan LKMM mulai dari pra hari H (mengonsep pelatihan, melakukan seleksi peserta), hari H (menyampaikan materi dan standby di tempat pelatihan), dan pasca hari H (melakukan pengawasan terhadap aplikasi ilmu pelatihan peserta melalui penugasan). Seorang pemandu tidak sama dengan seorang motivator atau trainer, karena seorang pemandu bertanggung jawab tidak hanya menyampaikan materi namun juga pada kegiatan pra dan pasca hari H.

DSC_5677

saya ketika mengisi materi LKMM TD X HMSI 2011

Berbicara tentang pemandu, tidak bisa dipungkiri being a pemandu adalah salah satu best life choice saya selama di kampus.  Saya menemukan dunia saya disini. Bertemu dengan orang-orang baru, berbagi pengalaman dengan mereka, bertemu pribadi-pribadi luar biasa yang seakan terus memberikan saya energi dan inspirasi tiada henti. Di samping itu, being a pemandu ternyata mengantarkan saya pada missing passion saya yaitu pengembangan sumber daya pemuda, human relations psychology, dan komunikasi publik. Sehingga tidak heran apabila saya sangat concern di bidang ini sampai di tahun terakhir perkuliahan, karena segala sesuatu yang dilakukan dengan hati pasti akan menghasilkan energi yang tak pernah mati.

DSC08985

menyerahkan hadiah kepada kelompok terbaik materi Teamwork Building bersama Mbak Rina Ulfa SI’07 di LKMM TD X HMSI 2011

Terjun ke dunia kepemanduan tidak hanya membawa saya menemukan hal-hal baik, namun juga masalah di dalamnya. Berkecimpung di dunia ini selama kurang lebih 3 tahun memberikan saya banyak gambaran dan permasalahan mengenai dunia kepemanduan. Banyak sekali permasalahan dalam dunia kepemanduan yang bisa dibahas disini, mulai dari segi administrasi, pelaksanaan, materi, kualitas lulusan, kualitas hasil seleksi, hingga masalah pemantauan pasca pelatihan. Namun disini saya ingin membahas permasalahan dari satu elemen penting, yaitu pemandu.

Pemandu adalah elemen kunci dari sebuah LKMM. Pemandu yang baik akan menghasilkan LKMM dan hasil outcome LKMM yang baik pula. Oleh karena itu diperlukan selalu peningkatan kualitas proses rekrutmen dan pembinaan kualitas pemandu setiap tahunnya. Di ITS sendiri setiap tahun selalu dilakukan Pelatihan Pemandu LKMM. Peminatnya pun membludak dan tidak perlu takut kekurangan animo pendaftar. Di fakultas saya sendiri, setiap tahunnya selalu ada lebih dari 80 orang mendaftar untuk bisa menjadi pemandu dan diambil kurang lebih 30 orang setiap angkatan. Setiap tahunnya pun jumlah pemandu di fakultas saya dan ITS selalu meningkat yang disebabkan salah satunya oleh makin banyaknya jumlah mahasiswa baru yang datang ke ITS.

Sayangnya besarnya kuantitas pemandu sekarang tidak diimbangi oleh kualitasnya. Sudah banyak keluhan mengenai kualitas pemandu ITS. Dalam opini saya pribadi memang ada beberapa temuan yang mengindikasikan adanya masalah dalam diri pemandu, ada banyak namun saya ingin fokuskan pada salah satu saja. Saya berikan studi kasus seperti ini “dalam suatu PP LKMM ada 35 orang peserta, saat LKMM PraTD  100% dari alumni PP LKMM tersebut aktif bertugas. Berapakah persentase keaktifan dan kehadiran alumni PP LKMM tersebut pada LKMM TD setelahnya ? Berapa pula persentase keaktifan alumni PP LKMM tersebut pada LKMM 1/2/3 tahun setelahnya ?” Jawabannya mungkin bisa bermacam-macam namun fakta membuktikan semakin lama seorang pemandu keluar dari PP LKMM maka semakin menurun (drastis) persentase keaktifannya. Bahkan saya pernah tergabung dalam kepanitiaan PP LKMM yang hanya diikuti oleh 8 orang dari jumlah awal 35 orang pemandu. Ironis, padahal ketika proses rekrutmen selalu dipertanyakan mengenai komitmen untuk tetap ada di jalur ini.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemandu LKMM makin susah dipegang ketika ia sudah semakin senior. Sudah banyak kasus terjadi dimana pemandu hanya “meledak” di awal namun “melempem” di akhir. Aktif dan menggebu-gebu di awal namun hilang tanpa kabar di akhir. Bahkan ada pula kasus pemandu yang tidak mau datang untuk rapat persiapan namun hanya mau datang ketika ia memandu. Jika di fakultas saya setiap tahunnya menghasilkan 35 orang pemandu maka di akhir masa bakti mereka jumlah pemandu yang masih aktif bisa dihitung dengan jari tangan. Apalagi dengan hanya memiliki 2 jurusan, menghasilkan 30an pemandu setiap tahunnya untuk hanya dibagi ke dua jurusan rasanya sangat “mubazir”. Sehingga tidak heran jika sempat ada istilah bahwa pemandu FTIF adalah pemandu paling gabut (gaji buta) di ITS karena jumlahnya yang banyak namun minim aksi.

Terlepas dari  banyaknya faktor mengenai penyebab masalah yang terjadi di kepemanduan, rasanya semua ini berasal dari satu sumber. Apa itu ? Niat. Semua perbuatan dinilai dari niatnya. Perbuatan baik dapat menjadi tidak baik karena niatnya tidak baik. Suatu perbuatan besar akan bernilai sia-sia jika niatnya tidak ikhlas. Ketika seseorang mendaftar ingin menjadi pemandu pasti banyak sekali faktor yang melatarbelakanginya. Entah itu murni karena panggilan hati, keterpaksaan, pengakuan, atau hanya sekedar batu loncatan. Saya wajar jika pada saat itu motivasi seseorang untuk menjadi pemandu masih kurang benar karena pengalaman dan pengetahuan mereka akan peran seorang pemandu sebenarnya pada saat itu masih kurang. Saya pun dulu ketika mendaftar pemandu motivasi terbesarnya adalah ingin meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum, meskipun tidak memungkiri bayang-bayang bisa cari muka dan terlihat hebat di depan mahasiswa baru dan mendapat pengakuan sekitar selalu terbayang.

Namun setelah masuk lebih dalam ke dunia ini, saya semakin paham bahwa sebenarnya bukan pemandu yang mampu menyampaikan materi paling gokil, motivatif, dan inspiratif yang dicari. Lebih dari itu, sebenarnya yang dibutuhkan adalah pemandu yang konsisten hingga akhir. Pemandu yang mampu meresapi apa komitmen yang pernah ia janjikan dan mampu menerjemahkan peran seorang pemandu dalam tindakan nyata. Saya jujur lebih respek terhadap pemandu yang kemampuan memandunya biasa saja namun konsisten dan komit akan perannya, daripada yang wah dan menginspirasi namun sering hilang tanpa kabar.

Perbuatan mencerminkan niat. Kita bisa mengukur niat seseorang dari perbuatan yang dilakukan. Jika sering absen rapat, sering menghilang tanpa kabar, hanya ingin datang ketika mandu, sering pilih-pilih materi, atau malah tidak pernah mau mandu sama sekali bisa jadi merupakan indikasi niat yang kurang baik. Bisa jadi niatnya adalah untuk sekedar cari pengakuan, cari muka di depan mahasiswa baru dan adik angkatan, atau untuk sekedar batu loncatan untuk prestasi yang lebih tinggi atau jabatan. Karena pada dasarnya siapa sih yang tidak ingin menjadi pemandu ? Bisa jadi orang yang dikagumi, dipandang, dan diakui. Semua keuntungan tersebut bisa dicapai dengan menjadi seorang pemandu.

Oleh karena itu daripada kita sibuk menyalahkan dan mengkritik tanpa solusi masalah masalah di dunia kepemanduan dan LKMM. Ada baiknya kita sedikit merenungkan kembali apa sih niat kita di awal untuk memilih jalan ini. Jika memang dirasa kurang baik, maka ubahlah untuk menjadi baik. Tidak ada kata terlambat untuk itu. Asalkan memang didasari keinginan tulus dari dalam hati. Dan jika memang sampai sekarang juga masih kurang baik dan tidak ingin merubahnya maka saran saya lebih baik bersikap fair untuk mundur. Menurut saya itu lebih baik dan lebih ksatria daripada membawa titel pemandu namun tidak pernah mengaplikasikan peran dan fungsinya.

Bukan mereka yang luar biasa dalam menyampaikan materi yang dicari, cukup mereka yang mau dan mampu untuk memahami apa komitmen yang pernah diucapkan untuk kemudian dijalankan dari awal sampai akhir dengan menghadapi resiko yang ada. Itu lebih dari cukup. Passion, pengakuan, atau batu loncatan semua akan terlihat dari apa yang Anda lakukan sebagai seorang pemandu.

Advertisements

6 comments

  1. Jadi kangen dunia kepemanduan yaz..semoga srmakin tambah baik lagi kepemanduan ITS, lebih2 lagi pemandu FTIf
    Biar anjing mengonggong tentang LKMM, yang penting itu bisa menjadi cambuk buat semuanya 🙂
    Makasih yaz catatan kecilnya, mengingatkan banyak hal
    Salam.hafizh
    Itu…

  2. Wew, bingung mau komen apa sebenernya 🙂

    Gak bisa bohong kalo susah memang nyari anak2 yang murni sepenuhnya cuma niat untuk berbagi waktu awal daftar jadi pemandu. Biasanya communication skill tetep jadi alasan yang paling banyak keluar saat interview.
    Gak salah sih memang, tapi kalo cuma itu yang jadi satu-satunya alasan sampe akhir (bahkan setelah join di kepemanduan) kayanya emang perlu disepak aja anak-anak kaya gitu.hhe

    And last, sama kaya komennya mas hafizh di atas, cuma bisa berdoa semoga kedepan pejuang2 LKMM bisa lebih istiqomah lagi.

  3. Like This “Saya jujur lebih respek terhadap pemandu yang kemampuan memandunya biasa saja namun konsisten dan komit akan perannya, daripada yang wah dan menginspirasi namun sering hilang tanpa kabar.” !!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s