Indonesia

Bukan Sebuah Akhir, Ini Sebuah Awal

unnamed

Teman-teman Relawan Turun Tangan yang baik,

Alhamdulillah, saya menulis email ini dalam keadaan sehat wal afiat, bersemangat dan penuh rasa syukur. Semoga saat email ini sampai, Anda juga dalam keadaan sehat wal afiat.

Kita baru saja menyudahi sebuah fase perjuangan. Kita jalani dengan cara terhormat. Perjuangan bersama ini terasa cemerlang, bukan karena sorot lampu terang penuh rupiah. Perjalanan ini cemerlang karena kristal keringat relawan di seluruh negeri, karena sorot mata dan hati yang tulus. Ini yang membuat kita harus makin bersyukur.

Relawan Nol Rupiah hadir di saat Indonesia dibanjiri dengan politik uang. Hingga begitu banyak kiprah di politik yang dijadikan mata pencaharian. Di arena politik itulah keputusan tentang pangan, pendidikan, kesehatan, perekonomian dan sederet urusan penting lainnya dibuat. Tetapi ide dan semangat kerelawanan itu sering tersingkirkan dalam sebuah ikhtiar politik.

Di sini kita kembalikan semangat itu. Anda adalah bukti otentik bahwa tetap banyak anak bangsa yg tidak bisa dirupiahkan, yang bisa menjaga harga dirinya. Seperti yang sering dikatakan bahwa relawan tidak dibayar, bukan karena tak bernilai tetapi karena tak ternilai. (more…)

Advertisements

Kasus Es Krim Gratisan Wall’s Unilever di Surabaya: Masalah Mental?

Tulisan ini disalin dari http://nasionalis.me/2014/05/kasus-es-krim-gratisan-walls-unilever-di-surabaya-masalah-mental/4/ . Tulisan yang menarik bagi saya karena membahas kasus kacaunya pembagian es krim di kota-kota besar beberapa waktu lalu ternyata berhubungan erat dengan kekacauan mental masyarakat Indonesia.

Kasus Es Krim Gratisan Wall’s Unilever di Surabaya

Bagi-bagi gratisan di Indonesia kerap dirundung masalah. Terlepas siapa yang membagikan. Mau perorangan, mau swasta, atau bahkan negara sekali pun, sering kali berbuah kericuhan. Memang tidak selalu harus berupa gratisan- bisa juga berupa diskon, pembagian zakat, atau pun BLT. Masih ingat tragedi pembagian zakat maut di Pasuruan yang menyebabkan tewasnya 21 orang? Atau masih segar kan di ingatan berbagai berita kekacauan pembagian zakat manakala lebaran? Orang tua maupun anak kecil terdempet dan terinjak-injak.

Ini kali sialnya menimpa nama besar perusahaan sekelas Unilever. Salah satu brandnya, yakni es krim Wall’s, tengah bagi-bagi es krim gratis di 8 kota besar: Jakarta di Plaza Selatan Gelora Bung Karno, Medan di Lapangan Merdeka, Yogyakarta di Alun-alun Selatan, Surabaya di Taman Bungkul, Makassar di Anjungan Pantai Losari, Palembang di Gelora Sriwijaya Jakabaring, Banjarmasin di Halaman Kantor Gubernur Kalimantan Selatan dan Bandung di Lapangan Balaikota. Entah bagaimana di kota-kota lain, namun dari berita-berita online yang beredar pembagian es krim di Surabaya dan Bandung menuai kecaman. Di Surabaya, pembagian es krim membuat taman kota rusak akibat membludaknya animo masyarakat. Rusaknya taman mengundang amarah dari ibu Risma sebagai walikota. Di Bandung, area balaikota disebut-sebut mengalami kemacetan parah dan lautan sampah. Hal ini membuat Ridwan Kamil hendak mengevaluasi acara-acara serupa di masa mendatang. (more…)

Bagaimana Logika Orang Indonesia?

Tulisan ini saya salin dari http://nasionalis.me/2014/05/logika-orang-indonesia-makin-miskin-makin-benar/

Sebuah tulisan yang sungguh menarik, membahas bagaimana kesalahan berpikir dan berlogika orang Indonesia dalam bermasyarakat. Semoga tulisan ini bermanfaat dan mencerahkan.


Indonesia itu unik. Cara berpikir kita terlalu sinetron karena memang dipengaruhi sinetron. Ambisi ingin menjadi kaya raya, tapi ketika berbicara dan bertindak seolah miskin. Saya jadi ingat ketika Ahmadinejad masih memimpin sebagai pemimpin Iran, banyak sekali orang kita yang bilang: wah kalau pemimpin hebat itu ya seperti Ahmadinejad. Mengapa banyak yang bilang demikian? Karena Ahmadinejad memakai baju bolong-bolong, pernah sholat di pinggir jalan, makan-makanan sederhana. Wah, menjadi pemimpin hebat ternyata mudah ya. Padahal kalau dipikir-pikir, Iran di bawah pemerintahan dia yang egois dan ekstrim, makin dikucilkan. Ekonomi morat marit, inflasi tinggi, industri dalam negeri Iran juga banyak yang mati. Hehe.

Yah, sebagian kita yang tadinya simpatik ke Ahmadinejad akhirnya antipati juga sih. Eh tapi bukan karena ketidakbecusan kepemimpinan dia loh. Tapi karena dia seorang Syiah. Walah… Alasan memuja tidak substansial, alasan membenci juga tidak substansial. (more…)