Month: June 2013

Terimakasih, Ibu Penjual Terang Bulan !

Seharian kemarin cuaca Surabaya seakan tidak bersahabat dengan aktivitas warganya. Mulai dari pagi hari hingga malam, hujan rintik-rintik membasahi setiap jengkal bumi Kota Pahlawan. Namun ternyata cuaca yang kata orang cukup romantis ini tidak juga bisa bikin penat di kepala saya hilang sepenuhnya. Dari beberapa hari sebelumnya, isi kepala ini diisi berbagai hal yang keluar masuk seakan minta untuk terus dipikirkan. Mulai dari masalah karir, keluarga, ekonomi, sosial, semua campur aduk di pikiran.

Malamnya, saya diminta tolong Bapak untuk membeli martabak dan terang bulan. Beliau bilang untuk makan pagi Ibu. Akhirnya saya berangkat menuju Pasar Pucang, pasar yang tidak terlalu jauh dari rumah untuk menuju lokasi penjual martabak dan terang bulan langganan.

my precious...

my precious…

Sesampainya di Pasar Pucang, saya segera mencari lokasi penjual martabak terang bulan langganan. Malang bagi saya, sesampainya disana mas mas penjualnya bilang kalau martabak terang bulannya sudah habis. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari penjual martabak terang bulan di dekat sana.

Tidak jauh dari penjual martabak pertama, terdapat penjual martabak dan penjual terang bulan (ya, 1 rombong martabak dan 1 rombong terang bulan, bukan 1 rombong martabak dan terang bulan) berjejer berdekatan. Saya memutuskan untuk membeli disana mengingat waktu semakin larut dan saya tidak ingin kembali kehabisan.

Saya memesan martabak pada rombong pertama. Penjual rombong ini adalah 2 orang laki-laki berusia sekitar 25-30 an. Satu orang bertugas meracik adonan, satu lagi bertugas menggoreng martabak.

Setelah memesan martabak, saya segera beralih ke rombong terang bulan di sebelahnya. Penjual terang bulan ini adalah seorang ibu berusia sekitar 40-50 tahun. Berperawakan agak gemuk dan berpotongan rambut pendek sebahu. Ibu ini berjualan dengan ditemani oleh kedua orang anaknya. 2 anaknya sama-sama perempuan, yang paling kecil masih balita dan kakaknya berusia sekitar 8-10 tahun.

(more…)

Advertisements

Belajar dari Kampus Monster

Seharian kemarin saya merasa suntuk sekali. Pikiran serasa penat dengan berbagai hal yang menumpuk dan parahnya tidak kunjung mendapatkan solusi. Bawaannya kesal terus. Semua hal saya anggap mengganggu. Agar tidak semakin suntuk, akhirnya saya memutuskan untuk menonton bioskop. Sendiri. Jam setengah 3 sore.

Mungkin terdengar sedikit memprihatinkan ya ? Nonton bioskop di jam sepi. Sendirian pula. Bukan karena saya jomblo, tapi menurut saya kadang-kadang kita perlu meluangkan waktu untuk sendiri. Bisa untuk refleksi, instrospeksi, atau evaluasi. Dan hari ini saya memutuskan mengambil jatah “Me Time” saya dengan menonton film di bioskop. Harapannya bisa bikin pikiran kembali rileks dan dapat inspirasi baru dalam menjalani hidup.

Sampai di bioskop XXI yang harga tiketnya paling murah se-Surabaya, saya memutuskan untuk menonton film Monster University. Pertimbangannya sederhana, saya ingin menonton film yang ringan, yang tidak bikin saya tambah mikir dan suntuk, tapi sarat pesan. Dan film-film keluaran Disney dan Pixar punya track record keren soal itu.

Poster Film Monster University

Monster University sendiri mengambil setting waktu sebelum Monster Inc (2001). Jika di Monster Inc diceritakan kehidupan Mike dan Sulley pada saat bekerja di Monster Inc, maka Monster University akan menceritakan kisah keduanya semasa menimba ilmu semasa mahasiswa di perguruan tinggi.

(more…)

Menolak Lupa !

Akhir-akhir ini isi Facebook dan Twitter saya dipenuhi oleh status-status dengan nuansa detik-detik LPJ oleh para pengurus organisasi mahasiswa di ITS yang sesaat lagi akan segera mengakhiri masa baktinya.

Isi dari status-status ini bermacam-macam. Ada yang menggunakan kata-kata mutiara untuk mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu selama satu tahun ke belakang, ucapan semangat kepada generasi penerus yang akan melanjutkan tongkat estafet perjuangan, hingga ucapan rasa syukur telah menyelesaikan perjalanan panjang selama satu tahun.

Status-status ini seakan kembali mengingatkan saya pada suatu hal. Atau suatu kewajiban kalau boleh saya bilang. Suatu kewajiban yang telah lama terbengkalai, yang seharusnya sudah selesai sejak lebih dari setahun lalu, yang selalu ditunggak dan dibenarkan untuk tidak dikerjakan dengan berbagai alasan bermotif amanah dan prioritas.

Ya, saya lagi ngomongin AKO RPO. Salah satu Kegiatan Pasca Pelatihan LKMM Tingkat Menengah 2012.

Jadi sebagai reminder atau penjelas bagi yang belum ngeh akan korelasi keduanya, jadi bisa dibilang kebanyakan “petinggi” organisasi mahasiswa ITS pada periode 2012-2013 lalu adalah “produk” keluaran dari LKMM TM 2012. Dan kebanyakan dari “produk” LKMM TM 2012 bermasalah (baca : molor) dengan AKO RPO masing-masing. Jadi agak make sense juga kalau saya langsung ingat KPP yang satu ini saat status-status LPJ mereka bertebaran di sosial media saya.

(more…)