Month: November 2016

Watching Moana

Another heartwarming stunning cinematic from Disney Pixar. Seperti film-film Disney lainnya, ceritanya masih kental dengan nilai-nilai kebaikan, kepercayaan diri, pantang menyerah, dan didukung dengan animasi visual yang indah banget khususnya tampilan airnya yang jernih banget dan pulau pulau yang begitu hijau dengan latar belakang langit biru.
Bercerita tentang Moana, seorang putri kepala suku di Pulau Motunui di Polinesia. Takdir memilihnya untuk pergi ke luar pulau, melintasi laut lepas untuk menemukan Maui, seorang demigod yang telah mencuri sebuah pusaka dan menyebabkan munculnya bencana dimana-mana. Ia harus meyakinkan Maui untuk mau ikut bersamanya dan mengembalikan pusaka tersebut ke tempat yang seharusnya. Apakah Moana berhasil?
Layaknya film Disney yang lain juga, film ini juga kental dengan adegan bernyanyi dan menari, bahkan dalam beberapa kesempatan adegan ini saya rasa terlalu sering. Baru selesai nyanyi uda nyanyi lagi. Tapi ada beberapa lagu yang memorable bagi saya, seperti lagu Moana di final act film dan lagu Awe Awe dengan bahasa Polinesia di akhir film. Melanjutkan trend film Pixar sebelumnya, akan ada film pendek yang cukup mengena di awal film.
Skor akhir: 8/10. #latepost

Watching Moana

View on Path

Review : Luke Cage (2016)

(SPOILER REVIEW)

Barusan kelar nonton installment Marvel Netflix keempat setelah Daredevil season 1 dan Jessica Jones (2015) dan Daredevil season 2 (2016). Secara umum, saya suka dengan serial ini. Punya warna sendiri yang membedakan dengan serial Defenders sebelumnya. Luke Cage kental dengan suasana dan sosial budaya warga kulit hitam di Harlem lengkap dengan segala dunia hitamnya. Bercerita tentang Luke Cage, seseorang dengan masa lalu yang ingin ia lupakan dan ingin memulai hidup baru di Harlem, setelah sebelumnya sempat bertemu Jessica Jones di Hell’s Kitchen. Luke yang memiliki kekuatan bulletproof skin awalnya hanya ingin lari dari kenyataan dan realita hidup yang ia alami. Namun wejangan dari mentornya, Pop membuatnya move on dan mencoba berbuat sesuatu untuk lingkungan sekitarnya yang pada akhirnya membuatnya bersinggungan dengan dunia hitam Harlem, bersama Cottonmouth, Shades, Mariah Dillard, dan Diamondback.

SPOILER ALERT !!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Jujur menurut saya kekuatan utama serial ini justru bukanlah dari karakter utamanya, tapi dari seluk beluk villainnya, perkembangan karakter mereka dan bagaimana aksi mereka melancarkan aksi untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Jujur, nonton serial ini saya seperti bercermin dengan kondisi sosial politik negara kita saat ini. Ada pihak yang punya relasi politisi, dan menggunakan relasi ini untuk kepentingannya semata. Lalu di serial ini kita melihat betapa mudahnya seseorang yang memiliki kekuasaan (politisi) melakukan tindak kejahatan lalu untuk menutupi itu mengarang cerita, membuat isu, memfitnah, dan menyerang pihak lain. Dan tentunya masyarakat akan lebih mudah percaya dengan mereka yang punya kekuasaan dibanding yang tidak.

Tokoh favorit saya di film ini jatuh kepada Mariah Dillard (Alfre Woodard) yang sukses memainkan karakter sebagai seorang politisi korup yang bermuka dua. Di depan masyarakat memasang muka manis sebagai orang yang peduli pada Harlem, namun di belakang itu semua punya banyak rekam jejak kriminal, termasuk membunuh Cottonmouth dan memfitnah Luke Cage. Greget banget melihat dia di episode akhir bisa bebas dari tuduhan dengan mudahnya karena berhasil membunuh si saksi kunci.

Shades? kita masih belum tahu apa motif dan tujuan di balik aksinya. Yang kita tahu, akhirnya ia bersama dengan Mariah. Theo Rossi sang aktor menurut saya berhasil memerankan karakter yang licik, oportunis, dan abu-abu.

Mike Colter selaku pemeran Luke Cage menurut saya cukup berhasil menunjukkan sisi karisma seorang Luke Cage (khususnya di depan para wanita, ehem having coffee). Namun untuk penggambaran karakternya, ada beberapa poin yang menurut saya malah jadi poin minus. Menurut saya, Luke disini terlalu galau, terlalu banyak pertimbangan, dan terlalu pemaaf. Dengan kekuatan yang sedemikian besar, seharusnya ia bisa menuntaskan konflik lebih cepat. Bisa dimaklumi, karena Luke disini adalah seseorang yang masih berusaha move on dengan masa lalunya. Namun tetap saya agak kurang sreg dengan karakternya.

Untuk karakter-karakter lain, semua membawakan perannya dengan baik. Misty Knight dengan ketajaman analisanya, Claire Temple, si Night Nurse yang membantu banget Luke khususnya ketika mengeluarkan serpihan peluru Judas (dalam beberapa kesempatan Claire malah terlihat lebih badass dari tokoh utamanya sendiri). Cornell “Cottonmouth” Stokes berhasil memperlihatkan pada kita sisi lain dari seorang villain. Ia memang jahat, namun ia punya alasan kuat, dan ada sisi lain dari seorang penjahat yang bisa membuat kita simpati. Diamondback a.k.a Nick Fury kw, berhasil meneror kita baik secara fisik maupun psikologis.

Akhir kata, serial Luke Cage tetap merupakan salah satu serial yang recommended untuk ditonton. Khususnya bagi Anda penggemar serial superhero. Marvel Netflix sejauh ini belum mengecewakan dari semua serial yang sudah tayang. Mungkin menurut saya kelemahan yang cukup terlihat adalah alur yang agak sedikit lambat dan terkesan diulur-ulur di episode pertengahan, dan episode terakhir yang antiklimaks dan menggantung. Nilai akhir : 8/10

(more…)