Month: July 2013

Biar Ga Sekedar Presentasi

Komunikasi telah menjadi suatu aspek penting dan kompetensi yang semakin dibutuhkan bagi setiap orang, baik dalam dunia akademik maupun profesional. Salah satu teknik komunikasi yang sering kali dilakukan dan perlu untuk dilatih terus-menerus adalah how to present something to audience (teknik presentasi). Presentasi bukan hanya soal berbicara dan menyampaikan sesuatu kepada orang lain, namun juga memberikan impact positif kepada audience, berupa kepercayaan, intensitas, dan mengikat secara emosional.

Rhenald Kasali

Rhenald Kasali

Untuk itu, berikut saya salin kumpulan tweet Pak Rhenard Kasali (@Rhenald_Kasali) tentang serba-serbi teknik presentasi yang baik dan benar. Cekidot.

(more…)

Semua Ada Tingkatannya

Ngefans sama JKT48 itu boleh. Sama kayak ngefans sama klub sepakbola. Bela-belain dateng ke theater, bayar mahal-mahal buat tiket sama pernak pernik, dan desak-desakan buat nonton konser JKT48 itu ya boleh. Asal kalau diminta tolong sama orangtua buat ngelakuin sesuatu langsung dikerjain, ga pake menggerutu. Atau kalau waktu adzan berkumandang ya pada dateng tepat waktu, segera ambil wudhu, dan berjamaah di mesjid. Kalau sama sesama manusia yang ga punya hubungan darah aja sampe segitu besar cinta nya, masa sama yang ngerawat dari kecil sama yang punya alam semesta ga lebih besar cintanya? 🙂

Diinspirasi setelah melihat tayangan konser JKT 48 di televisi dan perang komentar di dunia maya.

Allah Ingin Saya Bersyukur

Beberapa hari ini saya dilanda rasa sumpek yang begitu hebat. Hati ini terasa begitu berat seakan dihinggapi berbagai penyakit hati stadium lanjut. Mulai dari pesimisme, iri hati, dengki, sombong semua bercampur jadi satu. Semua ini membuat hidup saya begitu menyedihkan. Tidak banyak yang bisa saya hasilkan, yang ada hanya berpikir dan berpikir. Memikirkan ketakutan-ketakutan yang bertambah seiring bertambahnya hari.

Pagi tadi, setelah shalat Subuh saya melihat salah satu tayangan siraman rohani di televise. Kebetulan saat itu Ustadz Yusuf Mansyur yang sedang memberikan tausyiah. Dalam tayangan tersebut beliau mengatakan “Jika kita sedang bingung dan tidak tahu jawaban dari suatu persoalan, segera ambil wudhu, lakukan shalat 2 rakaat, dan mulailah berbicara dengan Allah.” Tidak usah berpikir apa kata-kata yang tepat, bagaimana memintanya, dan hal-hal rumit lainnya. Cukup tadahkan tangan, dan berbicaralah mengenai masalah yang tengah kita hadapi.

Setelah shalat Ashar, saya mencoba untuk mempraktekkan hal tersebut. Saya tadahkan tangan dan mulai berbicara. Saya curahkan segala uneg-uneg yang ada di hati. Saya utarakan dengan kalimat yang tidak beraturan yang mengindikasikan betapa ruwetnya keadaan hati ini. Saya coba gunakan teknik berdoa yang baik dari semua ilmu yang saya tahu semampu saya. Semuanya murni saya lakukan untuk mendapat secercah cahaya dari lorong kebingungan hidup yang semakin panjang di hati saya.

Selepas Maghrib, saya menyempatkan diri untuk membaca Al-Qur’an. Saya biasa membaca per surat, karena di samping memudahkan saya untuk mengetahui check point saat mengaji, juga karena bacaan yang saya selesaikan sudah memasuki juz-juz terakhir dimana surat-surat yang ada relatif tidak terlalu panjang.

Saat membuka catatan surat terakhir yang saya baca, saya cukup kaget karena ternyata hari ini surat pertama yang akan saya baca adalah Surat Ar-Rahman. Sebuah surat dimana kalimat “Fabi ayyi ala i rabbikuma tukazziban” (Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan ?) diulang berkali-kali. Sebuah surat yang sering dimainkan menjelang shalat Isya di mesjid-mesjid yang mengajarkan pada kita akan arti penting bersyukur.

(more…)