Sebuah Cerita Pengantar Tidur

Anak-anak itu benar-benar menjadi obat dari keletihan dunia,

Senyumnya, tawanya, riang gembiranya, adalah penggugur segala penat yang ada.

Saya punya keponakan, perempuan, usianya sekarang 4 tahun. Badannya gendut, rambutnya keriting kriwil, giginya masih banyak yang tumbuh. Lucu sekali. Suatu hari saya main ke rumahnya. Waktu itu sudah agak malam jadi saya pikir dia sudah tidur. Saat masuk dan saya menunggu di ruang tamu, ternyata dia keluar sambil ngucek-ngucek mata tanda sudah mengantuk. “Kamu kok belum tidur?” tanyaku. “Belum, kamu kok belum tidur, Om?” balasnya dengan polos sambil berjalan menuju ke arah saya.

Singkat cerita, kami bermain di ruang tamu. Sambil main, saya lihat dia sudah tak dapat menahan kantuk. Bolak balik dia telentang, tidur di lantai, sampai akhirnya saya minta dia pindah tidur di sofa. Akhirnya tantenya minta saya menggendongnya ke lantai atas ke kamar tantenya karena dia biasa tidur disana. Sampai di kamar, dia bilang “Om, bacain aku Kirana poo.” Di kamar tantenya memang ada buku Happy Little Soul, buku tentang Kirana dan yang biasa dibacakan padanya sebelum tidur oleh tantenya.

Akhirnya sesuai permintaannya, saya mulai membuka-buka buku tersebut, mencari cerita yang mana yang pas untuk diceritakan. “Yang ada gambarnya, Om..” pintanya dengan suara mungilnya. “Yang ada gambarnya ta? Oke, sebentar ya..”, jawabku. Setelah menemukan salah satu gambar yang saya anggap cukup menarik, saya mulai bercerita. Tangan kiri memegang buku, tangan kanan mengusap-ngusap kepalanya. “Hari ini Kirana membantu Ibook membereskan mainannya setelah bermain.. Jadi setelah kita bermain, kita harus membereskannya ya…”. Saya mulai bercerita sampai saya rasa cukup. Setelah itu saya melihat apakah ia sudah tidur atau belum. Ternyata belum. “Cerita lagi, Om..” ujarnya sambil agak merengek meminta saya terus membacakan cerita sampai dia terlelap.

Saya mulai mencari gambar kedua dan kembali bercerita. Saya lihat lagi, ternyata ia masih belum juga tidur. Sampai gambar ketiga juga sama, masih terjaga. Akhirnya karena stok gambar yang menarik menurut saya sudah habis, saya bilang ke dia, “Om ceritakan dongeng aja ya, kisah Kelinci dan Kura-Kura”. Ia mengangguk. “Pada suatu hari di bukit nun jauh, ada seekor kelinci yang sombong. Ia suka memamerkan kecepatannya berlari pada semua hewan. Suatu hari ia bertemu dengan seekor kura-kura. dia meremehkannya, dan si kura-kura pun menantangnya lomba lari..”, saya terus bercerita sampai habis sesuai kisah dongeng Kelinci dan Kura-Kura yang mahsyur kita kenal. Cerita selesai, dia sudah mulai tidur tapi masih buka tutup mata. Akhirnya saya ceritakan satu lagi cerita yaitu kisah tiga bersaudara dan serigala. Singkatnya dongeng ini bercerita tentang tiga orang kakak beradik yang membuat rumah masing-masing untuk melindungi diri dari serangan serigala. Kakak pertama membuat rumah dari tumpukan jerami, kakak kedua membuat rumah dari kayu, sedangkan adik ketiga membuat rumah dari batu bata. Rumah kakak pertama dan kedua paling cepat selesai, dan mereka mengolok-olok adiknya yang bersusah payah dan paling lama membuat rumahnya. Namun pada akhirnya rumah kakak pertama dan kedua hancur diserang serigala, namun akhirnya mereka selamat karena berlindung di rumah adik ketiga yang kuat dan kokoh.

Setelah membaca cerita ini, barulah keponakan saya yang lucu ini tidur. Melihatnya tidur dengan wajah polosnya yang tanpa dosa, terasalah bahwa anak-anak memang malaikat yang hadir di tengah-tengah kita, menghilangkan segala keletihan dan kepenatan dunia. Sungguh damai sekali rasanya memandang wajahnya saat itu. Sambil perlahan-lahan beranjak dari tempat tidur saya keluar kamar, dan tak lama kemudian saya pulang.

Yang menarik adalah beberapa hari kemudian saya kembali berkunjung ke rumahnya. Seperti biasa, ketika saya datang ia pasti selalu keluar mengajak saya bermain. Di tengah-tengah permainan, ia berkata “Om, tak ceritain cerita ta…”. Saya pikir dia akan cerita apa, ternyata ceritanya adalah “Ada seekor kelinci dan kura-kura. Mereka berdua bersaudara. Mereka mencari ayahnya yang hilang. Mereka mencari-cari kemana-mana tidak ketemu. Tapi habis itu mereka mencari kembali, dan akhirnya ketemu”. Mendengar cerita itu saya tak kuasa menahan tawa. Bukan hanya karena ceritanya lucu karena cerita saya sebelumnya dimodifikasi, dan saya baru ngeh kalau modifikasi cerita itu karena dia mengambil kisah film Finding Dory, film kesukaannya, dimana Dory berpetualang mencari keluarganya. Selain itu saya juga kagum. Kagum pada begitu cerdasnya dan hebatnya otak anak-anak dalam menampung informasi. Hanya diceritakan sekali, ia mampu mengulanginya dengan sangat baik.

Pantaslah jika anak-anak diibaratkan sebagai kertas putih yang kosong. Orangtuanya lah yang akan menggoreskan tinta di kertas tersebut. Baik buruknya anak bergantung dari tinta yang digoreskan, karena anak-anak adalah peniru paling ulung. Karakter, adab, akhlaknya kelak akan sangat bergantung dari perbuatan dan kebiasaan yang biasa ia lihat dan tiru di masa kecilnya. Sebuah tanggung jawab yang besar bagi setiap orangtua.

Ingin anak kita jadi anak yang baik? Maka jadilah orangtua yang baik terlebih dulu. Semoga kita semua diberi kemampuan dan kepantasan untuk mencapainya. Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s