My Review – Captain America : Civil War, Best Marvel Cinematic Universe Installment So Far

“Scott Lang: Hank Pym did say to never trust a Stark!

Tony Stark: Who are you?

Scott Lang: Come on, man.”

Saya tahu review ini sangat terlambat. Captain America : Civil War sudah tayang sejak akhir April lalu, dan saya sendiri sudah menontonnya tak lama setelahnya. Tapi berhubung kemarin-kemarin tidak ada waktu yang cukup ditambah niat yang kurang, akhirnya baru sekarang saya bisa menulis review film ini. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya bagi dari film ini, karena saking banyaknya adegan keren, kaitan dengan film lain, dan hint untuk film selanjutnya di film ini. Namun karena saya takut pembahasannya akan sangat panjang (saya menulis review saja biasanya sudah panjang sekali), artikel kali ini akan membahas review film ini secara umum saja. Untuk easter egg, clue, dan hal-hal lain akan dibahas di artikel lain. Karena film ini sudah tayang cukup lama, saya berasumsi Anda atau sebagian besar dari Anda sudah menyaksikan filmnya. Jadi kalau Anda belum menontonnya, silakan berhenti di sini karena : SPOILER ALERT !!!

Captain America : Civil War (CACW) adalah installment ke-13 (ke-13 Man, ke-13!!!) dari Marvel Cinematic Universe (MCU) yang dibangun sejak film Iron-Man di tahun 2008. CACW juga merupakan lanjutan langsung dari kisah Captain America : The Winter Soldier (CAtWS) di tahun 2014. Meskipun begitu karena film ini merupakan bagian MCU yang saling terkait satu sama lain, banyak cerita dan kisah yang diceritakan di film lain yang juga disinggung disini. Pasca kejadian di Avengers : Age of Ultron (2015) dimana Avengers berhasil menyelamatkan Sokovia dan dunia dari invasi robot Ultron, tim Avengers baru dipimpin oleh Captain America / Steve Rogers (Chris Evans) dan Black Widow / Natasha Romanoff (Black Widow) menjadi organisasi swasta yang berdiri sendiri menjaga perdamaian dunia. Dalam sebuah misi di Lagos, Nigeria, New Avengers berkonfrontasi dengan Crossbone / Brock Rumlow (Frank Grillo). Dalam pertarungan, Crossbone berniat meledakkan diri beserta Cap dan kerumunan orang di dekatnya, Scarlet Witch / Wanda Maximoff (Elizabeth Olsen) mencoba meredam ledakan dan mengarahkannya ke tempat lain namun sayang, ledakan justru mengenai sebuah gedung dan menewaskan belasan orang di dalamnya. Kejadian ini menjadi pemicu bagi pemerintah dunia yang sebelumnya sudah mendapati kehancuran besar lewat kejadian di New York (The Avengers, 2012), London (Thor : The Dark World, 2013), Washington DC (CAtWS, 2014), dan Sokovia untuk segera menentukan sikap dan berakhir dengan dibuatnya Sokovia Accords. Sebuah perjanjian yang disetujui 117 negara yang mengharuskan Avengers berada dalam kendali PBB dan hanya diperbolehkan beraksi atas seijin PBB. Hal ini diperparah dengan meledaknya sebuah bom berkekuatan besar dalam sebuah konferensi untuk mengesahkan Sokovia Accord yang dihadiri para petinggi berbagai negara, termasuk di dalamnya Raja Wakanda, King T’Chaka yang tewas dalam insiden ini dengan Bucky sang Winter Soldier (Sebastian Stan) diduga menjadi dalangnya. Hal ini memicu konflik di dalam internal Avengers sendiri dimana Iron Man / Tony Stark (Robert Downey Jr) mendukung dibuatnya perjanjian ini, sedangkan Cap menolaknya mentah-mentah. Stark berpendapat kekuatan mereka harus diberi batasan, jika tidak maka mereka tidak ada bedanya dengan penjahat. Sedangkan Cap tampaknya sudah trauma dengan pemerintah dan kepentingan yang bermain di dalamnya sehingga merasa jalan teraman masih tetap ada di tangan Avengers sendiri. Perbedaan prinsip yang juga disusupi kepentingan personal keduanya membuat kubu Avengers terpecah belah. Sebagian mengikuti Iron Man, sebagian mengikuti Cap. Pada akhirnya kedua kubu terpaksa bertarung satu sama lain, tanpa tahu bahwa ada dalang sesungguhnya yang memegang pion yang sedari awal memang bertujuan menghancurkan Avengers dari dalam.

Oke, sebelumnya saya akan menyampaikan bahwa saya adalah penggemar film-film MCU. Jadi saya berusaha sebisa mungkin objektif dalam memberikan penilaian terhadap film ini. Setelah melihat film ini (tidak cuma sekali, tapi dua kali) saya berani menyatakan bahwa inilah film terbaik dari semua film-film MCU selama ini. Dan saya juga tidak ragu menyatakan bahwa ini adalah salah satu film superhero terbaik sepanjang masa, dan film superhero terbaik di tahun 2016. Lebih baik dari Batman V Superman, ataupun X-Men : Apocalypse yang sudah saya tonton. Russo bersaudara sekali lagi mampu melanjutkan track record manis mereka sejak CAtWS, dengan kembali menghadirkan sebuah kisah yang solid, cepat, berimbang, tanpa menghilangkan sisi megah pertarungan superhero itu sendiri. Awalnya saya berpikir sulit untuk mengulang pencapaian CAtWS yang dipandang sebagai film MCU dengan kualitas terbaik sebelum ini. Mengingat begitu banyak karakter yang terlibat dalam film ini. Saya melihat sendiri di Age of Ultron, karakter yang banyak yang tidak bisa diatur dengan baik akan membuat fokus cerita menjadi tidak jelas. Namun ternyata saya salah besar, semua karakter baik wajah-wajah lama maupun para wajah baru semuanya diberikan porsi yang pas, berimbang, dan memorable. Setelah melihat film ini, saya boleh berharap banyak bahwa film paling pamungkas MCU di Phase 3, Avengers : Infinity War (2018 dan 2019) bisa disajikan dengan baik dengan lebih banyak karakter yang terlibat di dalamnya.

Hal lain yang membuat film ini begitu berbeda dengan film-film superhero lainnya adalah kita akan dihadapkan pada pilihan yang serba abu-abu. Tidak ada pihak yang benar-benar benar, dan benar-benar salah. Semua punya alasan yang kuat, semua punya motif yang mendasar. Kita bisa memahami mengapa Tony bersikeras Sokovia Accord perlu dijalankan, di sisi lain kita juga sangat bisa merasakan alasan Cap mengapa ia menolak menyetujuinya. Sampai akhirnya pun tidak ada pihak yang benar-benar menang. Semuanya rusak. Bencana, fisik, dan yang paling parah adalah kepercayaan dan hubungan antar anggota Avengers. Setelah pulang dari bioskop pun tidak jarang saya lihat mereka yang menonton berbarengan, berbeda pendapat mengenai siapa yang benar, Tony atau Cap. Benar-benar memicu Civil War dalam arti sebenarnya.

Bagi Anda yang mengikuti cerita Civil War di komik, tidak jarang banyak yang kecewa karena skala peperangan di film tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang ada di komik. Bahkan tidak sedikit yang mempertanyakan penamaan “War” pada judul film karena pertempuran yang terjadi di film lebih pantas disebut “tawuran” daripada perang yang sesungguhnya. Saya sendiri tidak terlalu mempermasalahkan hal ini, karena makna Civil War sendiri lebih berarti pada perang saudara, konflik antar pihak-pihak yang sebenarnya punya hubungan kedekatan. Dan Marvel sendiri juga sudah beberapa kali mengambil judul di komik untuk kemudian diinterpretasikan sendiri di layar lebar.

Film superhero selalu lekat kaitannya dengan efek visual dan adegan aksi. Untuk yang disebut pertama, saya akui ada beberapa scene yang efek CGI nya terlalu kelihatan seperti saat adegan Tony pertama kali berbicara dengan Spider-Man di bandara. Untuk efek kedahsyatan pertempuran saya rasa masih kalah dibandingkan dengan The Avengers atau Age of Ultron. Cukup wajar, mengingat skala pertempuran ini tidak sebesar dua film itu. Untuk adegan aksi? Jangan ditanya. Second act di film ini, yaitu pertempuran kedua kubu di bandara saya berani nobatkan sebagai adegan pertempuran superhero terbaik sampai hari ini. Adegan kedua kubu saling berhadapan, lalu kemudian diambil dari masing-masing kubu, kemudian kedua kubu saling berlari, dan bertarung satu sama lain. Cap vs Iron Man, Bucky vs Black Panther, Hawkeye vs Black Widow, Vision vs Scarlet Witch, War Machine vs Falcon? What else do you need? Just one word to describe it : EPIC.

Para pendatang baru justru bersinar dengan caranya masing-masing. Chadwick Boseman sukses membawakan sosok T’Challa, sang raja baru Wakanda yang berkarisma, berwibawa, dan badass. Sampai membuat Cap beberapa kali kewalahan menghadapinya. Sampai sekarang saya juga masih terngiang aksen Wakanda setiap dia berbicara yang keren abis. Keluarga baru MCU, your friendly neighborhood, the Web Slinger, Spider-Man juga diperkenalkan dengan mulus tanpa terkesan terlalu dipaksakan untuk masuk ke konflik dalam film ini. Ya mungkin beberapa orang merasa Spidey jadi orang yang tidak tahu apa-apa yang ikut-ikutan tawuran karena diajak oleh idolanya, Iron Man. Tapi ini justru jadi hint bagaimana film Spider-Man : Homecoming (2017) akan berawal. Tom Holland sukses membawakan karakter Spidey versi baru yang unik tanpa menyerupai identitas Spidey versi Tobey Maguire dan Andrew Garfied sebelumnya. Disini Spidey tampil sesuai pembawaannya di komik. Bawel, banyak omong, masih bocah dibandingkan dengan anggota Avengers yang lain. Meskipun begitu jangan remehkan kejeniusan dan kekuatan bocah ini. Tangan metal Bucky yang bikin anggota Avengers lain kewalahan saja, ditangkap dengan mudah sambil ngoceh “You have a metal arm? That’s awesome dude.” Ant Man? Anggota Avengers terbaru ini sukses jadi karakter paling ngeselin, kocak, tapi paling kasian di film ini. Banyak one-liner dan dialog Scott Lang yang bikin saya ngakak, dan salah satunya yang saya pasang di quote awal artikel ini. Kasihan karena dia yang awalnya kriminal kemudian sukses membersihkan namanya dan menjadi pahlawan di film Ant-Man (2015), akhirnya terpaksa kembali jadi buronan (kali ini dalam skala internasional) gara-gara mau-mau aja diajak Captain ikut perang. Dan satu lagi, Ant-Man sukses menghadirkan kejutan besar di balik tubuhnya yang kecil di film ini (ya, besar, Giant Man) yang saat muncul sukses membuat satu bioskop saat saya nonton tepuk tangan.

Dari semua karakter lama, saya justru menaruh perhatian lebih dan suka dengan pengembangan karakter Falcon / Sam Wilson (Anthony Mackie). Di film ini ia tampil begitu gagah, terlatih, berpengalaman, dan badass. Beberapa kali adegan bertarungnya ditampilkan dengan sangat memukau. Ia terbang, menjadikan sayap sebagai tameng, dan jadi deputi Captain America di lapangan dengan baik. Bandingkan saat di CAtWS yang masih terlihat newbie. Meskipun begitu, Falcon masih mempertahankan lelucon-leluconnya terutama dialog-dialognya dengan Bucky yang terlihat tidak akur tapi sama-sama menaruh respek pada Cap. “Can you move your set up? No.” 😀

Awalnya saya mengira kekurangan dari film ini adalah dari sosok villainnya, villain sebenarnya. Baron Zemo (ternyata Helmut Zemo) yang terkesan kurang gahar dan kurang motif untuk menjadi dalang konflik film ini. Bagaimana tidak, saat pertama kali diumumkan bahwa Zemo akan menjadi villain utama dalam film ini, saya membayangkan sosok Baron Zemo di komik sebagai seorang perwira kelas atas Hydra yang punya sejarah panjang dengan Captain America, lengkap dengan sosoknya misterius ditutup dengan topeng khasnya yang berwarna ungu. Ternyata di film Zemo adalah mantan deadsquad Sokovia yang sama sekali tak punya kekuatan super yang menaruh dendam karena keluarganya terbunuh dalam insiden Sokovia. Pada akhirnya Zemo pun tertangkap, namun kata-kata terakhirnya yang justru membuat penasaran saat Everett Ross (Martin Freeman) menanyakan “bagaimana rasanya menyaksikan rencana besarmu gagal dengan sempurna?” sebuah jawaban singkat namun misterius ia lontarkan “Yakin?“. Membuat kita layak berharap banyak akan aksi-aksinya di kemudian hari. Setelah saya nonton kedua kalinya, saya baru memahami bahwa mungkin saja Zemo adalah villain terbaik dari keseluruhan film-film MCU yang ada. Ia punya motif yang sangat personal dan manusiawi, keluarganya terbunuh oleh konflik yang berkaitan dengan Avengers. Ia punya rencana yang jelas dan sangat “sederhana”, menghancurkan Avengers dari dalam. Jauh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rencana Loki menguasai bumi dan Ultron yang berniat menghancurkan seluruh umat manusia. Ia tak punya kekuatan super, ia hanya berpengalaman dan sabar. Ia merangkai seluruh kejadian di film ini dengan satu tujuan : membuat Iron Man mengetahui bahwa Bucky lah pembunuh ayahnya. Membuatnya hilang kesabaran dan akhirnya membuatnya bertarung dengan Cap yang berusaha melindungi Bucky. Dan pada akhirnya Avengers hancur dari dalam Pada akhirnya hingga film ini, Zemo adalah satu-satunya penjahat di film Marvel yang berhasil mencapai tujuannya.

Memorable scene? Ah terlalu banyak adegan yang membekas dari film ini. Perkenalan New Avengers, kejar-kejaran Cap, Bucky, dan Black Panther, perkenalan Peter Parker pertama, (Hot) Aunt May, Spider-Man yang banyak bacot saat bertarung, semua scene Scott Lang, jurus memanah combo Haweye dan Ant-Man, kemunculan Giant-Man mulai dari ekspresi sombongnya saat muncul (hohoho) hingga cara mengalahkannya yang mengambil referensi Empires Strikes Back, hingga final battle yang sarat aspek emosional antara Iron Man, Winter Soldier, dan Captain America. Terlalu banyak adegan gila di film ini.

Dan untuk after credit scene, seperti biasa Marvel kembali menyelipkan after credit scene di akhir film sebanyak dua buah. Satu di tengah dan satu di akhir credit title. Mid credit scene menampilkan adegan Bucky yang dibawa ke Wakanda untuk kembali menjalani cryogenic sleep sampai ditemukan cara untuk mengangkat program cuci otak dari kepalanya. Scene ini juga memberikan petunjuk mengenai film solo Black Panther (2018) dan kemungkinan Bucky terlibat di dalamnya. Sedangkan after credit scene kedua menampilkan adegan Spidey yang kembali ke apartemennya di Queens dan diinterogasi Aunt May mengapa matanya bengkak. Ia menjawab ia dipukul seseorang bernama Steve, anak Brooklyn dan temannya yang sangat besar. Di akhir Peter terlihat menunjukkan spider signal ke atas, menandakan dirinya dan Tony Stark akan terus terhubung di kemudian hari.

Kesimpulannya, Captain America adalah sebuah film yang luar biasa, padat, solid, berimbang, dan layak dijadikan sebagai salah satu rekomendasi film superhero terbaik. Tak ada keraguan, bagi saya inilah film MCU terbaik hingga saat ini.

Penilaian dari saya 9.5/10

“Cap: [about Bucky He’s my friend. | Iron Man: So was I.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s