Restumu Adalah Segalanya, Bu.

Satu per satu rekan sejawat mulai menyebar undangan pernikahan. Kalau sebelumnya hanya teman-teman sepantaran, kini undangan mulai datang dari rekan-rekan terdekat. Tiap minggu selalu ada saja notifikasi masuk di ponsel yang berisi undangan, dan ajak untuk menghadiri gawe besar mereka. Dari yang semula biasa saja, lama kelamaan makin membebani juga. Setiap informasi undangan yang aku terima, akan selalu diiringi dukungan dan kegembiraan dari kawan-kawan yang lain. Jangan salah, tentu sebagai teman, aku turut senang, namun aku juga tidak bisa berbohong kalau aku juga merasa sedih dan semakin tertekan.

“Yang lain sudah melenggang ke pelaminan, kamu sendiri kapan?” Rasanya hati ini sudah demikian keras berteriak. Seandainya aku bisa menjawab sesederhana pertanyaan yang mereka ajukan. Namun kenyataannya tak semudah membalikkan telapak tangan. “Teman-temanku sudah pada punya pasangan hidup, bahkan tidak sedikit yang sudah punya buah hati yang lucu-lucu, lalu aku kapan? Kapan kau mau datang dan memintaku?” itulah pertanyaan yang hampir setiap saat aku terima. Tapi sayang, kunci utama untuk bisa menjawab semua pertanyaan itu belum jua aku genggam. Ya, kunci dari semua pertanyaan itu adalah berupa restu, restu dari mu wahai Ibu.

Aku tahu bahwa menikah itu bukan sekadar ikut-ikutan trend, latah karena melihat teman-teman yang lain sudah menikah, sehingga kita merasa “perlu” untuk mengikuti mereka. Aku sangat sepakat soal itu. Menikah itu soal kesiapan, momen, timing, dan kesepakatan. Namun, kalau kondisinya sudah ada calonnya, secara ekonomi dan usia sudah cukup, dan keluarga pihak wanita sudah mendukung kenapa tidak disegerakan? Padahal agama sudah mengajarkan bahwa keutamaan bagi seorang pria yang sudah cukup usia dan ekonomi untuk segera menikah. Di samping menambah rezeki juga menghindarkan dari fitnah dan perbuatan lain yang dilarang agama. Namun kenapa sulit sekali bagimu untuk mengerti ? Kenapa engkau malah terkesan menunda-nunda dan menghalangi rencana besar ini? Tidakkah kau takut aku semakin terjerumus ke dalam dosa? Tidakkah kau takut jika nanti Allah meminta pertanggungjawabanmu ? Mengapa engkau malah memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu terlalu kau pikirkan? Mengapa engkau malah berpikir soal kita tidak punya biaya untuk ini itu, padahal untuk kehidupan sehari-hari kita sudah diberikan rezeki yang lebih dari cukup.

Engkau bilang aku tak cukup siap untuk menyandang tanggung jawab sebagai seorang suami, namun mengapa engkau tak mempersiapkan aku untuk menuju level kesiapan yang kau minta? Kenapa kau biarkan aku menjalin hubungan dengan seorang wanita yang terlanjur berharap banyak kalau ujung-ujungnya kau tak beri kepastian. Tidakkah kau berpikir bagaimana jika wanita itu adalah anak perempuan mu sendiri? Tidakkah hatimu merasa hancur jika ada di posisinya. Aku selalu melihatmu setiap pagi mendengarkan ceramah pengajian di televisi, sebelum tidur kau putar lantunan ayat suci di tablet, namun kenapa tak kutemui sikap yang sama dengan apa yang kau tonton? Di saat kau butuh sesuatu dari aku, kau selalu kejar-kejar itu sampai aku bosan mendengarnya. Kau butuh aku membantu mengangkat galon, aku lakukan. Kau meminta aku menyikat lantai kamar mandi, aku lakukan. Kau minta aku kirimkan uang untuk biaya rumah bulanan, aku berikan. Namun di saat aku butuh sesuatu darimu, dan itu menyangkut masa depanmu, mengapa kau seperti tak peduli, selalu kau tunda-tunda, dan tak kau anggap penting?

Aku coba menjalin komunikasi dengan cara yang paling halus dan baik-baik. Aku tak ingin hatimu terluka karena perkataanku. Namun niat baik ini tak kau sambut dengan semestinya. Setiap aku tanya bolehkah aku melamarnya, selalu kau tolak dengan segala macam alasan dan keberatan. Setiap aku coba membahas lebih dalam, kau selalu mengelak dan mencari bahasan lain. Dengan harapan aku akhirnya lupa sendiri dan tak lagi bertanya padamu. Namun kalau begini terus sama saja kau mengajarkanku untuk hanya lari dari masalah, bukan menyelesaikan masalah. Kau selalu menyalahkan aku yang tak cukup bisa membantumu di rumah, namun kau juga tidak tahu apa yang sudah ku lakukan untuk keluarga ini di luar rumah. Kau selalu mengukurku dari kemampuanku mengajarkan pekerjaan rumah tangga, yang selalu kau anggap aku masih belum becus benar melaksanakannya. Namun kau tak pernah mengajarkanku, tak pernah membiasakanku, tak pernah melatihku dari awal, di saat usia sudah segini, baru kau “salahkan” aku dengan segala kekuranganku.

Aku bingung. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi seperti yang kau mau kalau kau saja tidak pernah mempersiapkanku untuk itu. Aku sedih, kenapa kau begitu keras kepala menganggap dirimu yang paling benar dan mengganggap semua pendapat orang lain salah? Kau minta aku “sempurna” untuk menjadi seorang kepala rumah tangga namun mengapa kau tak contohkan yang demikian? Kenapa kau meminta aku menjadi sesuatu yang kau sendiri pun tak bisa melakukannya?

Rasanya iri sekali melihat teman-teman lain yang rasanya “begitu mudah” untuk bisa melangsungkan pernikahan. Ada yang baru kenal, beberapa bulan berikutnya sudah berfoto bersama sambil membawa buku nikah. Ada yang berencana menikah, disambut dengan sukacita oleh keluarga terdekat, didukung penuh agar lancar sampai hari H. Kenapa hal-hal yang rasanya “begitu mudah” ini sulit sekali kami dapatkan? Jangankan persiapan menjelang acara, mendapat restu untuk bisa menikah saja tidak kunjung didapatkan. Di saat usia semakin bertambah, yang lain sudah memulai jejak langkah membangun bahtera rumah tangga, membangun mimpi dan masa depan, disini kami bagaikan terkatung-katung di lautan lepas tanpa kepastian kemana akan bersandar.

Aku harus bagaimana lagi? Mencoba meminta bantuan keluarga lain, kau tak pernah dengarkan. Keluarga besar selalu kau anggap orang lain yang sukanya merecoki internal rumah tanggamu. Kau lebih mendengar ucapan rekan-rekan sejawatmu di pekerjaanmu, yang mungkin tidak begitu tahu bagaiman keadaan asli di keluarga kita, namun kau jauh lebih percaya mereka. Tidakkah kau ingat siapa yang membantu kita saat keluarga kita ada kesulitan? Kenapa sekarang kita begitu sombong untuk sekadar membuka silaturahim?

Jujur, aku tak tahu lagi harus bagaimana meminta restumu. Yang aku bisa lakukan hanya berdoa, berdoa, dan berdoa. Mendoakan agar hatimu dilunakkan, pikiranmu dibukakan, dan lisan ini dilembutkan dan dimudahkan untuk meminta restumu. Apapun yang terjadi, apapun kondisinya, kau tetap Ibuku, wanita yang menjadi cinta pertama dalam hidupku. Aku menyayangimu, dan selalu berharap yang terbaik bagimu dan bagi keluarga kita. Jika kau bisa membaca tulisan ini, aku harap kau mengerti dan memahami. Restumu adalah segalanya, Bu.

Advertisements

2 comments

  1. 😦
    aku pun, nikahnya diundur2, bahkan pas udah direncanain, udah ketemu hari baik, malah dibatalkan, digantikan dengan pernikahan kakaknya rai. awalnya aku dan rai mau “melangkahi” kakaknya, bahkan udah siapin upacara apa aja supaya nggak kualat, eh malah, hari baik yg dipilihkan untuk aku dan rai, malah dikasihkan ke kakaknya rai dengan berbagai macam alasan.
    aku hancur waktu itu diaz. aku dan rai ngerasain patah hati bersamaan. aku sama rai bener2 jatuh. bahkan sampe sekarang, rasa sakitnya masih ada.

    jadi, setiap pernikahan itu ada perjuangannya diaz, itu menurutku. eh ini tulisan lama ya, aku terharu bacanya. smangat yaahhh, salam buat si cantik yg ada di tulisan terbaru hihihi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s