Month: May 2014

Waktu.

Seorang raja dipusingkan oleh ulah putra mahkotanya yang badung. Putranya itu lebih suka berfoya-foya, menghambur-hamburkan uang harta kerajaan. Padahal, sang putra adalah harapan sang raja untuk memangku tahta sepeninggalnya. Berbagai cara sudah dilakukan untuk menasihatinya. Bahkan para guru kerajaan sudah dikerahkan, tapi tak mempan. Akhirnya seorang penasihat kerajaan mengusulkan suatu skenario untuk menginsafkan sang putra mahkota. Ketika raja mandi, sengaja pakaian kebesaran kerajaan digantungkan di lorong tempat si putra mahkota sering lewat. Saat melintasi lorong itu, si putra mahkota terpana melihat indahnya pakaian kebesaran itu. Jiwa mudanya tergoda untuk mencoba pakaian itu. Saat pakaian itu sudah dikenakan, muncullah para prajurit kerajaan memergokinya. Putra mahkota pun diseret menghadap raja. Memakai pakaian raja adalah pelanggaran berat, dianggap usaha makar atau kudeta. Sebagai hukumannya, putra mahkota dijatuhi eksekusi mati.

“Sebelum kamu dieksekusi, aku beri kesempatan satu minggu agar kamu bisa menikmati semua kenikmatan dunia !” kata sang raja. Selama seminggu sang putra mahkota diberi semua kebebasan untuk berfoya-foya sesuka hati, menikmati makanan dan pakaian serta fasilitas kerajaan apa saja yang dia sukai. (more…)

Advertisements

Kasus Es Krim Gratisan Wall’s Unilever di Surabaya: Masalah Mental?

Tulisan ini disalin dari http://nasionalis.me/2014/05/kasus-es-krim-gratisan-walls-unilever-di-surabaya-masalah-mental/4/ . Tulisan yang menarik bagi saya karena membahas kasus kacaunya pembagian es krim di kota-kota besar beberapa waktu lalu ternyata berhubungan erat dengan kekacauan mental masyarakat Indonesia.

Kasus Es Krim Gratisan Wall’s Unilever di Surabaya

Bagi-bagi gratisan di Indonesia kerap dirundung masalah. Terlepas siapa yang membagikan. Mau perorangan, mau swasta, atau bahkan negara sekali pun, sering kali berbuah kericuhan. Memang tidak selalu harus berupa gratisan- bisa juga berupa diskon, pembagian zakat, atau pun BLT. Masih ingat tragedi pembagian zakat maut di Pasuruan yang menyebabkan tewasnya 21 orang? Atau masih segar kan di ingatan berbagai berita kekacauan pembagian zakat manakala lebaran? Orang tua maupun anak kecil terdempet dan terinjak-injak.

Ini kali sialnya menimpa nama besar perusahaan sekelas Unilever. Salah satu brandnya, yakni es krim Wall’s, tengah bagi-bagi es krim gratis di 8 kota besar: Jakarta di Plaza Selatan Gelora Bung Karno, Medan di Lapangan Merdeka, Yogyakarta di Alun-alun Selatan, Surabaya di Taman Bungkul, Makassar di Anjungan Pantai Losari, Palembang di Gelora Sriwijaya Jakabaring, Banjarmasin di Halaman Kantor Gubernur Kalimantan Selatan dan Bandung di Lapangan Balaikota. Entah bagaimana di kota-kota lain, namun dari berita-berita online yang beredar pembagian es krim di Surabaya dan Bandung menuai kecaman. Di Surabaya, pembagian es krim membuat taman kota rusak akibat membludaknya animo masyarakat. Rusaknya taman mengundang amarah dari ibu Risma sebagai walikota. Di Bandung, area balaikota disebut-sebut mengalami kemacetan parah dan lautan sampah. Hal ini membuat Ridwan Kamil hendak mengevaluasi acara-acara serupa di masa mendatang. (more…)

Bagaimana Logika Orang Indonesia?

Tulisan ini saya salin dari http://nasionalis.me/2014/05/logika-orang-indonesia-makin-miskin-makin-benar/

Sebuah tulisan yang sungguh menarik, membahas bagaimana kesalahan berpikir dan berlogika orang Indonesia dalam bermasyarakat. Semoga tulisan ini bermanfaat dan mencerahkan.


Indonesia itu unik. Cara berpikir kita terlalu sinetron karena memang dipengaruhi sinetron. Ambisi ingin menjadi kaya raya, tapi ketika berbicara dan bertindak seolah miskin. Saya jadi ingat ketika Ahmadinejad masih memimpin sebagai pemimpin Iran, banyak sekali orang kita yang bilang: wah kalau pemimpin hebat itu ya seperti Ahmadinejad. Mengapa banyak yang bilang demikian? Karena Ahmadinejad memakai baju bolong-bolong, pernah sholat di pinggir jalan, makan-makanan sederhana. Wah, menjadi pemimpin hebat ternyata mudah ya. Padahal kalau dipikir-pikir, Iran di bawah pemerintahan dia yang egois dan ekstrim, makin dikucilkan. Ekonomi morat marit, inflasi tinggi, industri dalam negeri Iran juga banyak yang mati. Hehe.

Yah, sebagian kita yang tadinya simpatik ke Ahmadinejad akhirnya antipati juga sih. Eh tapi bukan karena ketidakbecusan kepemimpinan dia loh. Tapi karena dia seorang Syiah. Walah… Alasan memuja tidak substansial, alasan membenci juga tidak substansial. (more…)